Showing posts with label AQIDAH. Show all posts
Showing posts with label AQIDAH. Show all posts

Monday, December 14, 2015

Sejarah Asal Usul Maulid Nabi Muhammad SAW

maulid-nabi-muhammad-300x225

Sejarah Asal Usul Maulid Nabi Muhammad SAW

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan peringatan dan penghormatan akan hari lahirnya beliau. Peringatan ini jatuh pada tanggal 12 bulan Rabiul Awal, bulan ketiga dalam kalender Islam. Yang pertama kali menyelenggarakan peringatan ini adalah kaum Fatimid pada abad ke-10, dan baru pada masa Ottoman Turki tahun 1588 lah peringatan hari raya ini dijadikan hari libur resmi. Kata “maulid” sendiri dapat dibaca mawlid, mevlid, mevlit, mulud, atau milad yang berarti hari ulang tahun. Selain untuk Nabi Muhammad SAW, di beberapa negara di belahan dunia seperti Mesir contohnya, penggunaan kata maulid biasa digunakan untuk penyelenggaraan hari ulang tahun dari figur-figur agama yang lainnya seperti para Sufi.

Awal Mula Diselenggarakannya Maulid Nabi Muhammad SAW

Penyelenggaraan maulid Nabi Muhammad SAW tidak akan pernah terjadi jika Nabi Muhammad tidak dilahirkan dalam keluarga dari Bani Hashim, salah satu keluarga yang cukup terkemuka di Mekkah. Nabi Muhammad SAW lahir pada bulan Rabiul Awal di tahun 570, bersamaan dengan Tahun Gajah. Diberi nama tahun gajah karena pada masa itu pasukan dari raja Abraha gagal menghancurkan Mekkah dengan pasukan gajahnya. Penganut Muslim Sunni percaya bahwa hari kelahiran Nabi Muhammad SAW adalah tanggal 12, sementara penganut Muslim Syiah percaya Nabi Muhammad lahir pada fajar tanggal 17 Rabiul Awal. Ketika lahir, ayah dari Nabi Muhammad SAW yang bernama Abdullah bin Abdul Muttalib telah meninggal dunia sehingga meninggalkannya hanya bersama ibunya yang bernama Aminah binti Wahab, adik dari pemimpin kelompok Bani Zuhrah di masa itu.

Nama yang diberikan Aminah kepada Nabi Muhammad SAW juga bukan nama yang familiar, dimana nama tersebut ia pilih setelah ia mendapat penerawangan ketika sedang mengandung.Dalam catatan sejarah, peringatan maulid Nabi Muhammad SAW yang pertama kali tercatat diklaim berasal dari abad ke-12 dan kemungkinan besar berasal dari Persia. Meski begitu, penyebutan pertama tentang perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW dalam catatan sejarah baru ada melalui tulisan-tulisan dari al-Din bin al-Ma’mun yang wafat pada tahun 1192 dan merupakan anak dari Mawa’iz al I’tibar fi Khitat Misr wal Amsar, seorang Grand Vizier Khalifah Fatimid, al-Amir yang berkuasa pada tahun 1101 hingga 1130. “Purwarupa” sejarah peringatan maulid Nabi Muhammad SAW sudah ada melalui peringatan hari lahirnya Nabi Muhammad SAW sebagai hari suci yang dilakukan secara pribadi pada akhir abad ke-12. Dulunya, peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW merupakan sebuah acara yang tidak terlalu populer hingga akhir abad ke-12 dimana rumah yang digunakan untuk acara Maulid ketangan banyak orang. Yang memperkenalkan penyelenggaraan ulang tahun Nabi Muhammad SAW di kota Sabta ini adalah Abu ‘I’Abbas al-Azafi sebagai suatu cara untuk menyerang balik festival-festival Kristen dan demi menguatkan identitas Muslim.

Sejarah peringatan maulid Nabi Muhammad SAW ini juga ditulis dalam Khitat milik al-Maqrizi, dimana dalam catatan tersebut, kekhalifahan Fatimid sering melakukan berbagai macam festival dan perayaan yang di dalamnya ada perayaan tahun baru, hari Ashura, ulang tahun nabi Muhammad SAW, ulang tahun Ali, ulang tahun al-Hasan, ulang tahun al-Husayn, ulang tahun Fatimah, ulang tahun Khalifah masa itu, hari pertama dan kelima belas Rajah, hari pertama dan kelima belas Sya’ban, festival Ramadhan, awal, pertengahan, dan akhir Ramadhan, malah kekhataman, hari Idul Fitri, hari Idul Kurban, dan beberapa hari lainnya. Dalam praktek awal sejarah peringatan maulid Nabi Muhammad SAW, perayaannya melibatkan beberapa elemen Sufi di dalamnya seperti kurban hewan, prosesi obor, pembacaan doa bersama, dan santapan besar. Perayaan maulid nabi ini biasanya dilakukan siang hari, kontras dengan peringatannya sekarang yang biasa dilakukan pada malam hari.
Affiliate Program Get Money from your Website
Praktek dan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW

Perayaan maulid Nabi Muhammad SAW biasanya dilaksanakan oleh penganut paham Sunni dan Syiah, sementara para penganut paham Wahabi menolak penyelenggaran hal ini. Di dunia Muslim, mayoritas ilmuwan Islam sendiri menyetujui adanya Maulid yang mereka nilai boleh dilakukan dalam tradisi Islam, dan melihatnya sebagai sebuah acara yang positif, sementara para Salafi menganggap bahwa perayaan Maulid merupakan sebuah inovasi tidak penting, dan tidak layak untuk dirayakan sehingga pantas untuk dilarang. Salah satu pemimpin Ahlul Hadis, Ibnu Taymiyya melarang diadakannya Maulid Nabi Muhammad SAW karena hal tersebut tidak ada di al-Qur’an maupun Hadist, tidak seperti perayaan dua hari besar Muslim lainnya.

Ketua Mufti yang bernama Ali Gomaa dari universitas Islam terbesar dan tertua di dunia, Al-Azhar mesir, Yusuf al-Qaradawi, ilmuwan utama dari pergerakan Persaudaraan Muslim, Muhammad Alawi al-Maliki, dan banyak orang lainnya yang merupakan penganut paham Sunni Muslim menyetujui tentang dirayakannya Maulid Nabi Muhammad SAW, dan mereka bahkan memberi anjuran untuk berpuasa pada hari senin sebagai cara untuk merayakan ulang tahun Nabi Muhammad SAW. Syakhul Islam, Dr Muhammad Tahir ul Qadri juga telah menerbitkan sebuah buku di Inggris dengan judul “Maulid Nabi Celebration and Permissibility” yang mempertahankan paham tentang kelegalan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Di sisi lain, banyak ulama dan ilmuwan yang menganggap Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai sesuatu yang bid’ah – inovasi negatif, sesuatu yang tidak membawa efek positif – sehingga melarang perayaannya. Orang-orang yang tergabung dalam kelompok ini ialah penganut Salafi, Deobandi, dan Qur’aniyun.

Terlepas dari segala kontroversi tentang diperbolehkan atau tidaknya perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, penceritaan tentang sejarah peringatan maulid Nabi Muhammad SAW selalu menjadi bacaan yang menarik bagi seluruh umat Islam di dunia. Sekian artikel singkat yang membahas mengenai sejarah perayaan maulid Nabi Muhammad SAW dengan segala kontroversi yang ada di dalamnya. Terimakasih sudah mengunjungi website kami, semoga ulasan di atas bermanfaat dan menambah pengetahuan anda.

Online-money exchangers listing
Info:
Sobat punya Web/Blog???!!  Buat nambah penghasilan, Pasang Iklan di blog/Webnya Untuk Daftar KLIK DISINI

Pasang benner di blog Sobat.atau DAFTAR DISINI

ATAU DAFTAR DISINI

CARANYA BACA : PASANG IKLAN/BANNER DI WEB/BLOG RAIH HASILNYA

Friday, May 16, 2014

73 GOLONGAN AGAMA ISLAM (Apakah Kita Termasuk kepada Golongan YgSelamat Atau Kedalam salah Satu Dari 72 Yg Celaka)

AHLU



Tentang Islam akan terpecah menjadi banyak golongan




“Akan ada segolongan umatku yang tetap atas Kebenaran sampai Hari Kiamat dan mereka tetap atas Kebenaran itu.” HR. Bukhari dan Muslim.




Rasulullah Saw lewat riwayat Jabir Ibnu Abdullah bersabda :


“ Akan ada generasi penerus dari umatku yang akan memperjuangkan yang haq, kamu akan mengetahui mereka nanti pada hari kiamat, dan kemudian Isa bin Maryam akan datang, dan orang-orang akan berkata, “Wahai Isa, pimpinlah jamaa’ah (sholat), ia akan berkata, “Tidak, kamu memimpin satu sama lain, Allah memberikan kehormatan pada umat ini (Islam) bahwa tidak seorang pun akan memimpin mereka kecuali Rasulullah SAW dan orang-orang mereka sendiri.”

Hadis tentang sejumlah 73 golongan yang terpecah dalam Islam

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda :

“Orang-orang Yahudi terpecah kedalam 71 atau 72 golongan, demikian juga orang-orang Nasrani, dan umatku akan terbagi kedalam 73 golongan.” HR. Sunan Abu Daud.

Dalam sebuah kesempatan, Muawiyah bin Abu Sofyan berdiri dan memberikan khutbah dan dalam khutbahnya diriwayatkan bahwa dia berkata, “Rasulullah SAW bangkit dan memberikan khutbah, dalam khutbahnya beliau berkata, 'Millah ini akan terbagi ke dalam 73 golongan, seluruhnya akan masuk neraka, (hanya) satu yang masuk surga, mereka itu Al-Jamaa’ah, Al-Jamaa’ah. Dan dari kalangan umatku akan ada golongan yang mengikuti hawa nafsunya, seperti anjing mengikuti tuannya, sampai hawa nafsunya itu tidak menyisakan anggota tubuh, daging, urat nadi (pembuluh darah) maupun tulang kecuali semua mengikuti hawa nafsunya.” HR. Sunan Abu Daud.

Dari Auf bin Malik, dia berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda:"Yahudi telah berpecah menjadi 71 golongan, satu golongan di surga dan 70 golongan di neraka. Dan Nashara telah berpecah belah menjadi 72 golongan, 71 golongan di neraka dan satu di surga. Dan demi Allah yang jiwa Muhammad ada dalam tangan-Nya umatku ini pasti akan berpecah belah menjadi 73 golongan, satu golongan di surga dan 72 golongan di neraka." Lalu beliau ditanya: "Wahai Rasulullah siapakah mereka ?" Beliau menjawab: "Al Jamaah." HR Sunan Ibnu Majah.


Affiliate Program Get Money from your Website



Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Orang-orang Bani Israil akan terpecah menjadi 71 golongan dan umatku akan terpecah kedalam 73 golongan, seluruhnya akan masuk neraka, kecuali satu, yaitu Al-Jamaa’ah.”HR. Sunan Ibnu Majah.

“Bahwasannya bani Israel telah berfirqah sebanyak 72 firqah dan akan berfirqah umatku sebanyak 73 firqah, semuanya akan masuk Neraka kecuali satu.” Sahabat-sahabat yang mendengar ucapan ini bertanya: “Siapakah yang satu itu Ya Rasulullah?” Nabi menjawab: ” Yang satu itu ialah orang yang berpegang sebagai peganganku dan pegangan sahabat-sahabatku.” HR Imam Tirmizi.

Abdullah Ibnu Amru meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda : “Umatku akan menyerupai Bani Israil selangkah demi selangkah. Bahkan jika seseorang dari mereka menyetubuhi ibunya secara terang-terangan, seseorang dari umatku juga akan mengikutinya. Kaum Bani Israil terpecah menjadi 72 golongan. Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, seluruhnya akan masuk neraka, hanya satu yang masuk surga.” Kami (para shahabat) bertanya, “Yang mana yang selamat ?” Rasulullah Saw menjawab, “ Yang mengikutiku dan para shahabatku.” HR Imam Tirmizi.

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Orang-orang Yahudi terbagi dalam 71 golongan atau 72 golongan dan Nasrani pun demikian. Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan.” HR Imam Tirmizi.

Diriwayatkan oleh Imam Thabrani, ”Demi Tuhan yang memegang jiwa Muhammad di tangan-Nya, akan berpecah umatku sebanyak 73 firqah, yang satu masuk Syurga dan yang lain masuk Neraka.” Bertanya para Sahabat: “Siapakah (yang tidak masuk Neraka) itu Ya Rasulullah?” Nabi menjawab: “Ahlussunnah wal Jamaah.”

Mu’awiyah Ibnu Abu Sofyan meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani) dalam masalah agamanya terbagi menjadi 72 golongan dan dari umat ini (Islam) akan terbagi menjadi 73 golongan, seluruhnya masuk neraka, satu golongan yang akan masuk surga, mereka itu Al-Jamaa’ah, Al-Jamaa’ah. Dan akan ada dari umatku yang mengikuti hawa nasfsunya seperti anjing mengikuti tuannya, sampai hawa nafsunya itu tidak menyisakan anggota tubuh, daging, pembuluh darah, maupun tulang kecuali semua mengikuti hawa nafsunya. Wahai orang Arab! Jika kamu tidak bangkit dan mengikuti apa yang dibawa Nabimu…” HR.Musnad Imam Ahmad.





Umat Islam terpecah menjadi 7 golongan besar yaitu:


1. Mu'tazilah, yaitu kaum yang mengagungkan akal pikiran dan bersifat filosofis, aliran ini dicetuskan oleh Washil bin Atho (700-750 M) salah seorang murid Hasan Al Basri.


Mu’tazilah memiliki 5 ajaran utama, yakni :


Tauhid. Mereka berpendapat :


Sifat Allah ialah dzatNya itu sendiri.


al-Qur'an ialah makhluk.


Allah di alam akhirat kelak tak terlihat mata manusia. Yang terjangkau mata manusia bukanlah Ia.


Keadilan-Nya. Mereka berpendapat bahwa Allah SWT akan memberi imbalan pada manusia sesuai perbuatannya.


Janji dan ancaman. Mereka berpendapat Allah takkan ingkar janji: memberi pahala pada muslimin yang baik dan memberi siksa pada muslimin yang jahat.


Posisi di antara 2 posisi. Ini dicetuskan Wasil bin Atha yang membuatnya berpisah dari gurunya, bahwa mukmin berdosa besar, statusnya di antara mukmin dan kafir, yakni fasik.


Amar ma’ruf (tuntutan berbuat baik) dan nahi munkar (mencegah perbuatan yang tercela). Ini lebih banyak berkaitan dengan hukum/fikih.

Aliran Mu’tazilah berpendapat dalam masalah qada dan qadar, bahwa manusia sendirilah yang menciptakan perbuatannya. Manusia dihisab berdasarkan perbuatannya, sebab ia sendirilah yang menciptakannya.

Golongan Mu'tazilah pecah menjadi 20 golongan.


2. Syiah, yaitu kaum yang mengagung-agungkan Sayyidina Ali Kw, mereka tidak mengakui khalifah Rasyidin yang lain seperti Khlifah Sayyidina Abu Bakar, Sayidina Umar dan Sayyidina Usman bahkan membencinya. Kaum ini di sulut oleh Abdullah bin Saba, seorang pendeta yahudi dari Yaman yang masuk islam. Ketika ia datang ke Madinah tidak mendapat perhatian dari khalifah dan umat islam lainnya sehingga ia menjadi jengkel. Golongan Syiah pecah menjadi 22 golongan dan yang paling parah adalah Syi'ah Sabi'iyah.


3. Khawarij, yaitu kaum yang sangat membenci Sayyidina Ali Kw, bahkan mereka mengkafirkannya. Salah satu ajarannya Siapa orang yang melakukan dosa besar maka di anggap kafir. Golongan Khawarij Pecah menjadi 20 golongan.



4. Murjiah.

Al-Murji’ah meyakini bahwa seorang mukmin cukup hanya mengucapkan “Laailahaillallah” saja dan ini terbantah dengan pernyataan hadits bahwa dia harus mencari dengan hal itu wajah Allah, dan orang yang mencari tentunya melakukan segala sarananya dan konsekuensi-konsekuensi pencariannya sehingga dia mendapatkan apa yang dia cari dan tidak cukup hanya mengucapkan saja. Jadi menurut al-murji’ah bahwa cukup mengucapkan “Laailahaillallah” dan setelah itu dia berbuat amal apa saja tidak akan mempengaruhi keimanannya, maka ini jelas bertentangan dengan hadits “dia mencari dengan itu wajah Allah”, maka ini adalah bentuk kesesatan al-murji’ah.


Al-Mu’tazilah dan Al-Khawarij meyakini bahwa seorang yang melakukan dosa-dosa besar kekal didalam api neraka, dan ini terbantah dengan sabda Rasulullah “sesungguhnya Allah mengharamkan atas api neraka orang yang mengucapkan Laailahaillallah”. Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah bahwasanya pengharaman api neraka membakar orang-orang yang mengucapkan “Laailahaillallah” itu ada dua, pertama pengharaman secara mutlak dan ini bagi orang yang mengucapkan “Laailahaillallah” dengan mendatangkan seluruh syarat-syaratnya, konsekuensi-konsekuensinya dan kandungan-kendungannya sehingga dia terlepas dari syirik besar, syirik kecil dan perbuatan-perbuatan dosa besar, kalaupun dia terjatuh kepada perbuatan dosa maka dia bertaubat dan tidak terus menerus diatasnya, maka orang yang sempurna tauhidnya seperti ini diharamkan api neraka untuk membakarnya secara mutlak, yakni dia tidak disentuh oleh api neraka sama sekali. Kemudian yang kedua, yaitu pengharaman yang tidak mutlak dan bersifat kurang, yang dimaksud yaitu pengharaman untuk kekal didalam api neraka, ini bagi orang-orang yang kurang tauhidnya sehingga dia terjatuh kedalam syirik kecil atau dosa-dosa besar yang dia terus menerus didalamnya, maka orang yang demikian ini diharamkan atas api neraka untuk membakarnya dalam jangka waktu yang kekal selama dia belum mengugurkan tauhidnya ketika didunia. Oleh karena itu pendapat al-mu’tazilah dan al-khawarij yang menyatakan bahwa pelaku dosa besar kekal didalam api neraka, ini adalah pendapat yang bertentangan dengan sunnah Rasulullah.


Affiliate Program Get Money from your Website

Tidak ada dzikir yang lebih utama didunia ini kecuali “Laailahaillallah”.


Salah satu sebab dikabulkannya doa adalah dengan menggunakan sifat Allah dan nama-Nya, secara khusus memanggil Allah dengan uluhiyah-Nya, meminta dan berdoa kepada Allah dengan menyebutkan rububiyah-Nya.

“Laailahaillallah” merupakan dzikir dan doa, disebut dengan doa karena orang yang mengucapkan “Laailahaillallah” mengharapkan ridha Allah dan ingin sampai kepada surga-Nya.

Golongan Murjiah pecah menjadi 5 golongan.

5. Najariyah, Kaum yang menyatakan perbuatan manusia adalah mahluk, yaitu dijadikan Tuhan dan tidak percaya pada sifat Allah yang 20. Golongan Najariyah pecah menjadi 3 golongan.

6. Al Jabbariyah, Kaum yang berpendapat bahwa seorang hamba adalah tidak berdaya apa-apa (terpaksa), ia melakukan maksiyat semata-mata Allah yang melakukan. Golongan Al Jabbariyah pecah menjadi 1 golongan.

7. Al Musyabbihah / Mujasimah, kaum yang menserupakan pencipta yaitu Allah dengan manusia, misal bertangan, berkaki, duduk di kursi. Golongan Al Musyabbihah / Mujasimah pecah menjadi 1 golongan.

Dan satu golongan yang selamat adalah Ahli Sunah Wal Jama'ah.


Ahli Sunah wal Jama'ah.
1. Pengertian.
Secara etimologi Ahli adalah kelompok/keluarga/pengikut. Sunah adalah perbuatan-perbuatan Rasulullah yang diperagakan beliau untuk menjelaskan hukum-hukum Al Qur'an yang dituangkan dalam bentuk amalan. Al Jama'ah yaitu Al Ummah ( Al Munjid) yaitu sekumpulan orang-orang beriman yang di pimpin oleh imam untuk saling bekerjasama dalam hal urusan yang penting.

Menurut istilah Ahli Sunah wal Jama'ah adalah sekelompok orang yang mentaati sunah Rasulullah secara berjama'ah, atau satu golongan umat islam di bawah satu komando untuk urusan agama islam sesuai dengan ajaran Rasulullah dan para sahabatnya.

2.Syarat terbentuknya Al Jama'ah.

Secara singkat telah diterangkan oleh Sayyidina Umar RA: " Tidak ada islam kecuali dengan jama'ah, Tidak ada jama'ah kecuali dengan imam, Tidak ada imam kecuali dengan Bai'at, Tidak ada bai'at kalau tidak ada taat.

Dan bai'at bukanlah syahadat, sebagaimana yang diyakini oleh mereka yang salah, dan apalagi dengan pengkafiran diluar kelompok tersebut.

3. Terpeliharanya Islam.

Dalam masa-masa kerusakan islam Allah menunjukkan kasih sayangnya dengan membangkitkan para mujadidnya setiap 100 tahun sekali yang meluruskan kembali pemahaman ajaran Rasul sesuai dengan kebutuhan pemahaman mereka saat itu hingga turunnya masa imam Mahdi.

Satu-satunya perbedaan lain yang ditemukan adalah bahwa kedua penulis kadang-kadang menggunakan nama-nama berbeda untuk golongan yang sama yang menjadi jelas ketika melihat kepercayaan-kepercayaan yang berhubungan dengan mereka. Ini saya percaya karena kedua penulis itu bermukim di dua kawasan yang berbeda (satu di Arabia yang lain di anak benua Indo-Pak) dalam masa-masa yang berbeda mungkin juga golongan-golongan yang sama telah dikenal dengan nama-nama berbeda di daerah-daerah yang berbeda.
ini telah di upayakan untuk memasukkan berbagai nama yang diberikan bagi golongan yang sama oleh kedua penulis itu di mana memungkinkan.
Digital currency exchanger listing
Nama Golongan dan Dasar Kepercayaan Yang Membedakan Dengan Yang Lain

1. Jarudiyah 


Para pengikut dari Abul-Jarud, mereka mempercayai nabi (s.a.w.) mencalonkan Ali (ra) sebagai Imam dengan ciri-ciri khas beliau tapi bukan dengan nama.



2. Sulaimaniah/ Jaririyah
Para pengikut dari Sulaiman ibnu-Jarir az-Zaidi, mereka mempercayai Imamah merupakan masalah pertemuan (musyawarah) dan dapat dikuatkan oleh dua orang Muslim terbaik.



3. Butriyah/ Hurariyah
Mereka tidak memperselisihkan Khilafat of Utsman(r.a.), tidak pula mereka menyerang beliau atau pun memuji beliau.

4. Yaqubiyyah
Mereka menerima Khilafat dari Abu Bakar(r.a.) dan Umar(r.a.), tapi tidak menolak (menentang) orang-orang yang menolak para Khulafa ini. Mereka juga percaya bahwa orang Muslim pelaku dosa-dosa besar akan berada di neraka selamanya.

5. Hanafiyah
Para pengikut dari Imam Muhammad ibnu al-Hanifah. Mereka percaya bahwa Allah mungkin mempunyai permulaan.

6. Karibiyah
Mereka percaya bahwa Imam Muhammad ibnu al-Hanifah tidak meninggal dan adalah Imam Ghaib (menghilang) dan Mahdi yang diharapkan.

7. Kamiliyah
Para pengikut dari Abu-Kamil. Mereka mempercayai para sahabat sebagai murtad karena mereka meninggalkan bai’at kepada Ali(r.a.) dan mengutuk Ali karena berhenti memerangi mereka. Mereka mempercayai kembalinya orang mati sebelum hari kiamat dan bahwa setan adalah benar dalam kelebihan api dari pada tanah.

8. Muhammadiyyah / Mughairiyah
Para pengikut dari Muhammad ibnu-’Abdullah ibnu al-Hassan. Mereka tidak percaya bahwa Imam Muhammad ibnu ‘Abdullah meninggal dunia dan bahwa beliau adalah Imam Ghaib dan Mahdi yang dinantikan.

9. Baqiriyah
Para pengikut dari Muhammad ibnu ‘Ali al-Baqir. Mereka mempercayai beliau sebagai Imam Ghaib dan Mahdi yang diharapkan.

10. Nadisiyah
Mereka mempercayai bahwa orang-orang yang menganggap diri mereka lebih baik dari pada orang lain adalah kafir (tak beriman).



11. Sya’iyah
Mereka percaya bahwa orang yang telah mengucapkan La Ilaha Illa-Llah (Tiada Tuhan yang patut disembah selain Allah), apa pun yang dia lakukan, tak akan pernah dihukum.

12. Ammaliyah
Mereka percaya bahwa keimanan bagi seseorang adalah apa yang dia amalkan secara ikhlas.

13. Ismailiyah
Mereka mempercayai keberlangsungan Imamah di kalangan keturunan Ismail ibnu Ja’far.

14. Musawiyah / Mamturah
Mereka mempercayai Musa ibnu Ja’far sebagi Imam Ghaib dan Mahdi yang diharapkan.

15. Mubarikiyah
Mereka mempercayai keberlangsungan Imamah di kalangan keturunan dari Muhammad ibnu Ismail ibnu Ja’far.

16. Katsiyah / Itsna ‘Asyariyah (Imam dua belas)
Mereka percaya bahwa Mahdi yang diharapkan akan merupakan Imam kedua belas di antara keturunan dari ‘Ali ibnu Abi-Talib.

17. Hasyimiyah / Taraqibiyah
Mereka menisbahkan tubuh jasmani kepada Allah dan juga menuduh Nabi (s.a.w.) tidak taat kepada Allah.

18. Zarariyah
Mereka mempercayai bahwa Allah tidak hidup tidak pula mempunyai sifat-sifat hingga Dia menciptakan kehidupan bagi-Nya Sendiri dan sifat-sifat-Nya.

19. Yunusiyah
Para pengikut dari Yunus ibnu ‘Abdurl-Rahman al-Kummi. Mereka percaya bahwa Allah dipikul oleh para pembawa singasana-Nya, walaupun Dia lebih kuat dari pada mereka.

20. Syaitaniyah / Syirikiyah
Mereka mempercayai pandangan bahwa amal perbuatan hamba-hamba Allah adalah hakikat; dan seorang hamba Allah dapat benar-benar menghasilkan satu hakikat.

21. Azraqiah
Para pengikut dari Nafi ibnu al-Azraq. Mereka tidak mempercayai mimpi dan kasyaf yang benar (baik) dan mendakwakan bahwa segala bentuk wahyu telah berakhir.

22. Najadat
Para pengikut dari Najdah ibn-’Amir al-Hanafi. Mereka membatalkan hukuman bagi peminum arak juga mereka mempercayai bahwa para pendosa dari golongan ini tidak akan dimasukkan di neraka tapi pada suatu tempat lain sebelum diizinkan ke surga.

23. Sufriyah
Para pengikut dari Ziyad ibnu al-Asfar. Mereka mempercayai bahwa para pendosa itu sebenarnya adalah musyrik.

24. Ajaridah
Para pengikut dari Abdul Karim ibnu-Ajrad. Mereka mempercayai bahwa seorang anak seharusnya diseru kepada Islam sesudah ia mencapai kedewasaannya. Juga mereka mempercayai rampasan perang itu haram hingga pemiliknya dibunuh.

25. Khazimiyah
Mereka mempercayai Allah mencintai manusia dari semua agama bahkan jika orang telah menjadi kafir pada sebagian besar kehidupannya.

26. Shuaibiyah / Hujjatiyah
Mereka mempercayai bahwa apa yang Allah kehendaki sungguh terjadi tak peduli apa pun itu dan apa yang tidak terjadi artinya itu tidak dikehendaki Allah.

27. Khalafiyah
Para pengikut dari Khalaf. Mereka tidak mempercayai perjuangan kecuali di bawah kepemimpinan seorang Imam.

28. Ma’lumiyah / Majhuliyah
Mereka percaya bahwa barang siapa yang tidak mengenal Allah dengan seluruh nama-Nya adalah jahil terhadap Dia dan orang yang jahil terhadap Dia adalah orang kafir.

29. Saltiyah
Para pengikut dari Salt ibnu Utsman. Mereka percaya pada keimanan dewasa saja dan jika bapak telah masuk Islam anak-anak dianggap kafir hingga mereka mencapai kedewasaan.



30. Hamziyah
Para pengikut dari Hamzah ibnu Akrak. Mereka percaya bahwa anak-anak orang musyrik dilaknat dengan neraka.

31. Tsa’libiyah
Para pengikut dari Tsa’labah ibnu Masykan. Mereka percaya bahwa para orang tua tetap menjadi penjaga atas anak-anak mereka hingga anak-anak itu menjelaskan kepada orang tua mereka bahwa mereka berpaling dari kebenaran.

32. Ma’badiyah
Mereka tidak percaya dalam mengambil dan memberikan sedekah dari atau untuk para hamba sahaya.

33. Akhnasiyah
Mereka tidak mempercayai peperangan dikobarkan kecuali dalam pertahanan atau ketika lawan dikenali secara pribadi.

34. Syaibaniyah / Masybiyah
Para pengikut dari Syaiban ibnu Salamah al-Khariji. Mereka mempercayai Allah menyerupai makhluk-makhluk-Nya.

35. Rasyidiyah
Mereka percaya bahwa tanah yang diairi dengan mata air, terusan atau sungai yang mengalir harus dibayarkan zakatnya setengah bagian, sedangkan tanah yang diairi hanya dengan hujan harus dibayarkan zakat seluruhnya.

36. Mukarramiyah / Tehmiyah
Para pengikut dari Abu-Mukarram. Mereka percaya bahwa kejahilan merupakan kekafiran. Juga bahwa permusuhan atau persahabatan dari Allah tergantung pada keadaan keimanan seseorang pada kematiannya.

37. Ibadiyah / Af’aliyah
Menganggap Abdullah ibnu Ibad sebagai Imam mereka. Mereka mempercayai amal-amal baik yang dilakukan tanpa niat membuat Allah ridha.

38. Hafsiyah
Menganggap Hafs ibnu abil Mikdam sebagai Imam mereka. Mereka percaya bahwa hanya Allah yang mengetahui seseorang bebas dari kemusyrikan.

39. Haritsiyah
Para pengikut dari Harits ibnu Mazid al-Ibadi. Mereka percaya bahwa kemampuan mendahului perbuatan-perbuatan.

40. Ashab Ta’ah
Mereka percaya bahwa Allah dapat mengutus seorang nabi tanpa memberinya suatu tanda untuk membuktikan kebenarannya.

41. Syabibiyah / Salihiyah
Para pengikut dari Syabib ibnu Yazid as-Syaibani. Mereka mempercayai Imamah dari seorang wanita bernama Ghazalah.

42. Wasiliyah
Para pengikut dari Wasil ibnu-’Ata al-Ghazza. Mereka mempercayai bahwa orang-orang yang melakukan dosa-dosa besar akan dihukum di neraka tapi masih tetap sebagai orang-orang yang beriman.

43. ‘Amriyah
Para pengikut dari ‘Amr ibnu Ubaid ibn-Bab. Mereka menolak kesaksian yang sah dari khalayak umum demi mendukung pihak mereka dalam perang Jamal (unta).

44. Hudhailiyah / Faniyah
Para pengikut dari Abu-al-Hudhail Muhammad ibnu al-Hudhail. Mereka percaya bahwa neraka dan surga kedua-duanya akan binasa dan bahwa ketetapan Allah dapat berhenti, yang pada waktu itu Allah tidak akan lagi menjadi penguasa.

45. Nazzamiyah
Para pengikut dari Abu-Ishaq Ibrahim ibn-Saiyar. Mereka tidak percaya pada mukjizat alami Al-Qur-an Suci tidak pula mereka mempercayai mukijzat Nabi Suci(s.a.w.) seperti pembelahan bulan.

46. Mu’ammariyah
Mereka mempercayai bahwa Allah tidak menjadikan kehidupan tidak pula kematian tapi itu merupakan tindakan alami dari tubuh yang hidup.

47. Basyriyah
Para pengikut dari Basyr ibnu al-Mu’tamir. Mereka percaya bahwa Allah mungkin mengampuni dosa-dosa manusia dan mungkin mengubah keputusan tentang pengampunan-Nya dan menghukumnya jika dia membangkang lagi.

48. Hisyamiyah
Para pengikut dari Hisyam ibnu ‘Amr al-Futi. Mereka percaya bahwa jika satu masyarakat Muslim bersepakat perlunya Imam dan jika ia memberontak dan membunuh Imam, hendaknya tak seorang pun yang dipilih sebagai Imam selama pemberontakan.

49. Murdariyah
Para pengikut dari Isa ibnu Sabih. Mereka percaya bahwa berhubungan dekat dengan Sultan (penguasa) membuat orang jadi kafir.

50. Ja’friyah
Para pengikut dari Ja’far ibnu Harb dan Ja’far ibnu Mubasysyir. Mereka percaya bahwa minum arak tak dapat dihukum dan bahwa hukuman neraka dapat diduga dengan proses mental.

51. Iskafiyah
Para pengikut dari Muhammad ibnu Abdallah al-Iskafi. Mereka percaya bahwa Allah mempunyai kekuasaan untuk memaksa anak-anak dan orang-orang gila tapi tidak kepada orang-orang yang mempunyai akal sempurna.

52. Tsamamiyah
Para pengikut dari Tsamamah ibnu Asyras al-Numairi. Mereka percaya bahwa dia yang Allah tidak paksa untuk mengenal-Nya, tidak dipaksa untuk mengenal dan digolongkan dengan hewan-hewan yang tidak bertanggung jawab.

53. Jahiziayh
Para pengikut dari ‘Amr ibnu Bahr al-Jahiz. Mereka percaya bahwa Allah dapat menciptakan sesuatu tapi tak dapat melenyapkannya.

54. Syahhamiyah / Sifatiyah
Para pengikut dari Abu-Yaqub al-Syahham. Mereka percaya setiap sesuatu ditakdirkan dengan dua takdir, satu Pencipta dan yang lain penerima.

55. Khaiyatiyah / Makhluqiyah
Para pengikut dari Abu-al-Husain al-Khaiyat. Mereka percaya bahwa setiap sesuatu yang tidak ada merupakan satu tubuh sebelum ia muncul, seperti manusia sebelum kelahiranya adalah tubuh dalam ketiadaan. Juga setiap sifat menjadi ada ketika ia mengadakan kemunculannya.

56. Ka’biyah
Para pengikut dari Abu-Qasim Abdullah ibnu Ahmad ibnu Mahmud al-Banahi dikenal sebagai al-Ka’bi. Mereka percaya bahwa Allah tidak melihat Diri-Nya Sendiri tidak pula orang lain kecuali dalam perasaan bahwa Dia mengetahui Diri-Nya Sendiri dan yang lain.

57. Jubbaiyah
Para pengikut dari Abu-’Ali al-Jubbai. Mereka percaya bahwa Allah mengikuti hamba-hamba-Nya ketika Dia memenuhi keinginan mereka.

58. Bahsyamiyah
Para pengikut dari Abu-Hasyim. Mereka percaya bahwa orang yang berniat untuk berbuat buruk, walau dia mungkin tidak melakukannya, dianggap berbuat jahat dan menerima hukuman.

59. Ibriyah.
Mereka percaya bahwa Nabi Suci Muhammad (s.a.w.)adalah seorang bijak tapi bukan seorang nabi.

60. Muhkamiyah
Mereka percaya bahwa Tuhan tak punya kendali atas makhluk-makhluk-Nya.

61. Qabariyyah
Mereka tidak percaya azab kubur.

62. Hujjatiyah
Mereka tidak percaya pada hukuman (balasan) bagi perbuatan atas dasar bahwa karena setiap sesuatu ditakdirkan maka apa pun yang orang lakukan dia tidak bertanggung jawab untuk itu.

63. Fikriyyah
Mereka percaya bahwa amal Dzikr and Fikr (ingat dan berpikir tentang Allah) adalah lebih baik dari pada ibadah.

64. ‘Aliwiyah / Ajariyah
Mereka percaya bahwa Hadhrat Ali(ra.) berbagi kenabian dengan Muhammad (s.a.w.).

65. Tanasikhiya
Mereka percaya pada penitisan ruh.

66. Raji’yah
Mereka percaya bahwa Hadhrat Ali ibnu Abi-Talib akan kembali ke dunia ini.

67. Ahadiyah
Mereka percaya pada Fardhu (wajib) dalam agama tapi menolak sunnah.

68. Radidiyah
Mereka percaya bahwa dunia ini akan hidup (ada) selamanya.

69. Satbiriyah
Mereka tidak percaya pada penerimaan taubat.

70. Lafziyah
Mereka percaya bahwa Al-Qur-an adalah bukan kalam Tuhan tapi hanya artinya dan inti sarinya adalah kalam Tuhan. Kata-kata dari Al-Qur-an adalah hanya perkataan orang yang menuturkan.

71. Asyariyah
Percaya bahwa Qiyas (mengambil misal) adalah salah dan mengandung kekafiran.

72. Bada’iyah
Mereka percaya bahwa taat kepada Amir adalah wajib tak peduli apa pun yang dia perintahkan.
Affiliate Program Get Money from your Website
Adapun untuk pembagianya sebagai berikut




1. Mu'tazilah :20

2. Syiah : 20


3. Khawarij : 07


4. Murjiah : 05


5. Nujariyah : 03


6. Jabariyah : 01


7. Musyabbahah : 01

8. Najiyah : 01


1.Golongan Muktazilah

terbagi menjadi dua puluh kelompok , iaitu:

1. Al Washiliyah

2. Al Amriyah


3. Al Hudzailiyah


4. An-Nizhamiyah


5. Al Aswariyah

6. Al lskafiyah

7. Al Ja'fariyah

8. Al Basyariyah

9. Al Mizdariyah

10. Al Hisyamiyah

11. Ash-Shalihiyah

12. Al Khithabiyah

13. Al Hadbiyah

14. Al Ma'mariyah

15. Ats-Tsamaniyah

16. Al Khiyathiyah

17. Auahiziyah

18. Al Ka'biyyah

19. Al Jabaiyah

20. Al Bahsyamiyah

Ahli Kalam (Mutakallimin)
Ahli kalam ialah golongan dari kelompok yang keluar dari Muktazilah yang mengikuti Ahlu Sunah Wal Jamaah tetapi masih berpegang kepada tauhid Muktazilah. Mereka kebanyakannya dari kelompok hizbiyyun Asyairah (berasal dari Muktazilah) dan Suffiyah (berasal dari Syiah). Ahli-ahli Kalam memerlukan falsafah dan mantiq (ilmu logik) dalam mentakwil al-Quran dan hadis. Kelompok ini pula berpecah lagi menjadi ahli falsafah apabila bergabung dengan sufi.


Imam Syafi’i ketika memasuki kota Mesir mengatakan, “Kami tinggalkan kota Baghdad sementara di sana kaum zindiq (menyeleweng; aliran yang tidak percaya kepada Tuhan, berasal dari Persia; orang yang menyelundup ke dalam Islam, berpura-pura –menurut Leksikon Islam, 2, hal 778) telah mengadakan sesuatu yang baru yang mereka namakan assama’ (nyanyian).
Kaum zindiq yang dimaksud Imam Syafi’i adalah orang-orang sufi. Dan assama’ yang dimaksudkan adalah nyanyian-nyanyian yang mereka dendangkan. Sebagaimana dimaklumi, Imam Syafi’i masuk Mesir tahun 199H.


Perkataan Imam Syafi’i ini mengisyaratkan bahwa masalah nyanyian merupakan masalah baru. Sedangkan kaum zindiq tampaknya sudah dikenal sebelum itu. Alasannya, Imam Syafi’i sering berbicara tentang mereka di antaranya beliau mengatakan:
“Seandainya seseorang menjadi sufi pada pagi hari, maka siang sebelum dhuhur ia menjadi orang yang dungu.”
Dia (Imam Syafi’i) juga pernah berkata: “Tidaklah seseorang menekuni tasawuf selama 40 hari, lalu akal­nya (masih bisa) kembali normal selamanya.” (Lihat Talbis Iblis, hal 371).


Di antara­nya ketika seseorang datang kepadanya sambil meminta fatwa ten­tang perkataan Al-Harits Al-Muhasibi (tokoh sufi, meninggal 857M). Lalu Imam Ahmad bin Hanbal berkata:
“Aku nasihatkan kepadamu, janganlah duduk bersama mereka (duduk dalam majlis Al-Harits Al-Muhasibi)”.


Imam Ahmad memberi nasihat seperti itu karena beliau telah melihat majlis Al-Harits Al-Muhasibi. Dalam majlis itu para peserta duduk dan menangis –menurut mereka– untuk mengoreksi diri. Mereka berbicara atas dasar bisikan hati yang jahat.
2.Golongan Syiah 

pertama kali terbagi menjadi tiga kelompok

1. Ghulah

2. Zaidiyah


3. Imamiyah





Golongan Syiah Ghulah






terbagi menjadi delapan belas kelompok kecil, iaitu:





1. As-Sab'iyyah





2. Al Kamiliyah





3. Al Bayaniyah





4. Al Mughiriyah







5. Al Janahiyah








6. Al Manshuriyah






7. Al Khithabiyah






8. Al Gharabiyah






9. Adz-Dzammiyah






10. Al Hisyamiyah






11. Az-Zarariyah






12. Al Yunusiyah






13. Asy-Syaithaniyah






14. Ar-Razamiyah






15. Al Mufawadhah






16. Al Bidaiyah






17. An-Nashariyah






18. Al Ismailiyyah










Golongan Syiah Al Ismailiyah








terbagi menjadi ke dalam enam kelompok kecil, iaitu:








1. Al Bathiniyah








2. Al Qurmuthiyah








3. Al Haramiyah






4. As-Sab'iyyah






5. Al Babikiyah






6. Al Hamdiyah










Syiah Zaidiyah









terbagi menjadi tiga kelompok, iaitu:








1. Jarudiyah








2. As-Sulaimaniyah








3. Al Batiriyah








Golongan Al Imamiyah


Hanya ada satu kelompok. Di antaranya: Suatu kaum terlalu mengagungkan para guru (syaikh) mereka, hingga menyifatkan mereka dengan hal-hal yang tidak mereka miliki. Orang pandai dari mereka menganggap tidak ada wali bagi Allah yang lebih besar daripada fulan, bahkan mungkin menutup pintu kewalian dari seluruh umat kecuali orang yang disanjungnya. Ini adalah kebatilan mutlak dan keji, kerana orang-orang terakhir selamanya tidak akan mencapai martabat orang-orang terdahulu, sebab sebaik-baik zaman adalah zaman orang-orang yang melihat Rasulullah dan beriman kepadanya, kemudian orang-orang setelahnya, dari ini berlalu sampai Hari Kiamat.

Pemeluk Islam yang paling kuat memegang agama serta melaksanakan ajaran dan keyakinan adalah orang-orang pada masa awal Islam, kemudian terus menurun sedikit demi sedikit sampai akhir dunia. Kebenaran tidak akan hilang secara menyeluruh, pasti ada kelompok yang tetap melaksanakan dan meyakininya serta mengerjakan tuntutannya sesuai kadar keimanan mereka. Tetapi, segala sisinya tidak seperti keadaan orang-orang pertama Islam, kerana seandainya salah seorang dari orang-orang terakhir berinfak emas sebesar gunung Uhud, maka ia tidak akan mencapai nilai satu mud Uhud yang dikeluarkan oleh sahabat Rasulullah, bahkan setengahnya pun tidak. Yang demikian dalam hal harta, dan begitu pula pada seluruh cabang keimanan berdasarkan bukti percobaan yang biasa.


Pada awal kitab yang lalu telah dijelaskan bahawa agama akan terus merosot, dan hal ini tidak diragukan lagi keasliannya. Hal ini menurut Ahlus-Sunnah wal Jamaah. Laki, mengapa setelah itu ia berkeyakinan bahawa dirinya adalah wali penghuni bumi dan tidak ada wali selainnya? Kebodohanlah yang mendominasi, kerana berlebih-lebihan dalam pengagungan dan fanatik terhadap golongan akan membentuk orang sepertinya atau lebih parah darinya.
Orang menengah dari mereka menganggap bahawa ia sama dengan Nabi, akan tetapi ia tidak mendapatkan wahyu. Sebuah berita sampai kepadaku dari kalangan orang yang berlebih-lebihan dalam menyanjung guru mereka dan mengusung tarekatnya menurut persangkaan mereka, seperti yang didakwa oleh murid-murid Al Hallaj (secara objektif) tentang guru mereka. Sementara orang-orang yang berlebih-lebihan menganggap lebih keji dari itu, seperti yang didakwa sahabat-sahabat Al Hallaj tentangnya.


Salah seorang guru yang adil dan jujur dalam penukilan meriwayatkan kepadaku, ia berkata: Aku pernah tinggal beberapa masa pada salah satu pedalaman desa yang di dalamnya terdapat banyak kelompok yang seperti itu. Suatu hari aku keluar dari rumahku untuk menyelesaikan beberapa urusan, lalu aku melihat dua orang sedang duduk. Aku mengira keduanya sedang membicarakan beberapa cabang tarekat mereka, maka aku mendekati keduanya secara sembunyi-sembunyi untuk mendengar percakapan mereka, —kerana kebiasaan mereka adalah menyembunyikan rahsia mereka— maka aku mendengar keduanya berbicara tentang guru mereka dan kebesarannya di mata mereka; bahawa tidak ada seorang pun di dunia ini yang sepertinya. Keduanya terlihat sangat bangga dan bahagia dengan pertemuan ini. Kemudian salah seorang dari keduanya berkata kepada yang lain, "Apakah kamu suka kebenaran? Ia adalah nabi." Orang yang satunya menjawab, "Benar, inilah kebenaran." Lalu aku pergi dari tempat itu dengan berlari kerana takut akan turunnya bencana bersama mereka.


Ini adalah ciri Syi'ah Imamiyyah, dan seandainya tidak kerana sikap berlebih-lebihan dalam agama; bersekongkol untuk memenangkan mazhab dan cinta terhadap pembuat bid'ah, maka hal itu tidak akan mempengaruhi akal seorang pun. Akan tetapi Nabi bersabda,


"Sungguh kalian akan mengikuti sunah-sunah umat sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, lalu sehasta demi sehasta."


Mereka berlebih-lebihan seperti orang-orang Nasrani yang berlebih-lebihan terhadap Isa AS, mereka berkata, 'Sesungguhnya Allah adalah Isa bin Maryam,' maka Allah berfirman, 'Katakanlah, 'Hai Ahli Kitab, Janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus. "(Al Maa' idah: 77)
Dalam sebuah hadits dijelaskan,
"Janganlah kalian berlebih-lebihan memujiku seperti orang-orang Nasrani memuji Isa bin Maryam, tapi katakanlah, 'Hamba Allah dan utusan Allah'."


Orang yang memperhatikan kelompok-kelompok ini pasti akan mendapatkan bid'ah-bid'ah dalam banyak masalah furu 'syariah, kerana apabila bid'ah masuk pada hal-hal yang bersifat ushul, maka akan mudah masuk pada hal-hal yang bersifat furu'.


3.Golongan Khawarij


terbagi menjadi tujuh kelompok, iaitu:


1. Al Mahkamiyah


2. Al Baihasiyah




3. Al Azariqah




4. An-Najdat


5. Al Abadhiyah







terbagi menjadi empat kelompok, iaitu:





a.Al Hafshiyah





b. Al Yazidiyah





c. Al Haritsiyah





d. Al Muthi'iyah




6. Al Ajaridah






terbagi menjadi sebelas kelompok, di antaranya iaitu:





a. Al Maimuniyah





b. Asy-Sya'ibiyah





c. Al Hazimiyah





d. Al Hamziyah





e. Al Ma'lumiyah





f. Al Majhuliyah





g. Ash-Shalatiyah





h. Ats-Tsa'labiyah





Ats-Tsa'labiyah terbagi lagi menjadi empat kelompok, iaitu:







a.AI Akhnasiyah






b.AI Ma'badiyah






c.Asy-Syaibaniyah







d.Al Mukramiyah




Jadi, semuanya berjumlah enam puluh dua kelompok.


4.Golongan Murjiah

terbagi menjadi lima kelompok, iaitu:

1. Al Ubaidiyah

2. Al Yunusiyah


3. Al Ghasaniyah


4. Ats-Tsaubaniyah


5. Ats-Tsaumaniyah



5.Golongan An-Nujariyah

terbagi menjadi tiga kelompok, iaitu:

1. Al Barghutsiyah

2. Az-Za'faraniyah


3. Al Mustadrakah



6.Al Jabariyah

terbagi menjadi satu kelompok.


7.Al Musyabbahah

terbagi menjadi satu kelompok.


8.An- Najiyah 




Terbagi menjadi satu klompok





Jumlah ini sesuai dengan penjelasan dalam hadis shahih.
Puak Bid’ah Tegar (Mubtadi)
Sekelompok ulama mengatakan bahawa akar bid'ah ada empat golongan selain sufiyyah. Seluruh kelompok yang berjumlah tujuh puluh dua kelompok ini merupakan pecahan dari empat golongan tersebut. Mereka adalah
1. Khawarij,
2. Rawafidh (Rafidhah),
3. Al Qadariyah, dan
4. Al Murji'ah.
5. Sufi

Yusuf bin Asbath berkata, "Kemudian masing-masing kelompok tersebut terpecah menjadi delapan belas kelompok, sehingga semuanya menjadi tujuh puluh dua kelompok. Sedangkan kelompok yang ketujuh puluh tiga adalah Firqah An-Najiyah."

Khawarij Paling Hampir Dengan Syiah
Pada kelompok yang telah diperingatkan oleh syariat, seperti kaum Khawarij. Kelompok yang paling dekat dengan mereka adalah kelompok Syiah. Al Mahdi Al Maghribi. Pada mereka ini tampak jelas dua hal yang diberitahukan oleh Rasulullah mengenai kaum Khawarij:


a. Membaca Al Qur’an namun bacaan Al Qur’annya tidak melewati kerongkongan mereka.

b. Memerangi ahlul Islam (kaum Muslim) dan membiarkan para penyembah berhala. Mereka memerangi kaum Muslim dengan cara takwilan yang rosak terhadap nash-nash (Al Qur’an dan hadis). Mereka mengasingkan diri dan tidak mahu memerangi orang-orang kafir, baik dari kaum Nasrani, kelompok yang ada di sekitarnya, mahupun kelompok lainnya (yang sesat).

c. Membaca Al Qur’an dan membacakannya (kepada orang lain) hingga mereka membuat hal-hal (hukum) baru dalam Al Qur’an, padahal mereka tidak memahaminya dan tidak mengetahui maksud dari ajaran Al Qur’an tersebut. Oleh kerana itu, mereka membuang jauh-jauh kitab-kitab para ulama dan menyebut kitab-kitab tersebut sebagai kitab yang hanya berdasarkan logika. Mereka membakar dan merobek kulit Al Qur’an. Padahal, para ulama ahli fiqihlah yang bertugas menjelaskan makna-makna yang terdapat dalam Al Qur’an dan Sunnah, yang mereka tuangkan dalam kitab-kitab mereka dengan cara yang sepatutnya.


d. Menganggap para ulama sebagai kaum Mujassimun (kelompok yang mengatakan bahawa Allah memiliki jism [tubuh]). Mereka juga menganggap ulama-ulama bukanlah orang-orang yang mengesakan Allah.


Puak Bukan Ahli Bid’ah
Seperti yang dikatakan oleh Ath-Tharthusyi, mereka yang tidak digolongkan sebagai ahli bid'ah. Contoh:
1. Golongan Qadariyah, mereka menafikan aradh. Alasannya, tidak ada cara untuk mengetahui proses terjadinya alam dan Sang Pencipta selain dengan menetapkan aradh tersebut.
2. Golongan Al Haluliyah.
3. Golongan An-Nashiriyah.
4. Kelompok-kelompok Syiah Ghulah.

Tentang kaum Qadariyah terdapat sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud dari Ibnu Umar, bahawa Rasulullah bersabda,


عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْقَدَرِيَّةُ مَجُوسُ هَذِهِ الْأُمَّةِ إِنْ مَرِضُوا فَلَا تَعُودُوهُمْ وَإِنْ مَاتُوا فَلَا تَشْهَدُوهُمْ
"Kaum Qadariyah merupakan Majusi umat ini (Islam). Jika mereka sakit maka janganlah kalian menjenguk mereka, dan jika mereka meninggal dunia maka janganlah kalian menyaksikan (menguburkan)nya." (Hadis Riwayat Abu Daud dan Ibnu Majah)


Diriwayatkan dari Hudzaifah, bahawa Rasulullah bersabda,
"Pada setiap umat terdapat kaum Majusi. Sedangkan Majusi umat ini adalah mereka yang berkata, 'Tidak ada qadr. 'Jika ada di antara mereka yang meninggal dunia, maka janganlah kalian menyaksikan (menguburkan) jenazah mereka. Jika ada yang sakit dari mereka, maka janganlah kalian menjenguknya. Mereka adalah kelompok Dajjal. Hak Allah untuk mengkategorikan mereka sebagai Dajjal."


Hadis ini menurut ahlu naql {ahli hadis) tidak shahih. Penulis kitab Al Mughni berkata, "Tidak ada yang shahih sedikit pun dalam hadis itu."


صِنْفَانِ مِنْ أُمَّتِي لَيْسَ لَهُمَا فِي الْإِسْلَامِ نَصِيبٌ الْمُرْجِئَةُ وَالْقَدَرِيَّةُ
"Dua kelompok dari ummatku yang keduanya tidak termasuk bahagian dari Islam iaitu Al Qadariyah dan Murji'ah." (Hadis Riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah)


Diriwayatkan dari Muadz bin Jabal dan yang lain secara marfu bahawa Rasulullah bersabda,
" Golongan Qadariyah dan Murjiah dilaknat oleh lisan tujuh puluh nabi. Nabi yang terakhir di antara mereka (yang melaknat) adalah Muhammad."


يَقُولُ إِنَّهُ سَيَكُونُ فِي أُمَّتِي مَسْخٌ وَقَذْفٌ وَهُوَ فِي الزِّنْدِيقِيَّةِ وَالْقَدَرِيَّةِ
Akan ada pada umatku Maskh (mereka yang dirubah rupanya dengan rupa haiwan) dan Qadzaf (yang menuduh orang baik berbuat keji) iaitu pada orang-orang Zindik dan Qadariyah." (Hadis Riwayat Ahmad)

Tuesday, May 13, 2014

Maulid Nabi Bukan Bid'ah (sebuah dalil nyata tentang kesalahanorang-orang yang meganggap maulid nabi adalah bid'ah)

imagesNabi Muhammad pun memperingati hari kelahiran beliau yaitu dengan berpuasa di hari senin yang akhirnya menjadi kesunahan puasa pada hari tersebut, ini mengapa pada setiap tahun nabi Muhammad tidak memperingati hari kelahiran beliau karena beliau takut kalau suatu saat nanti peringatan Maulid nabi Muhammad setiap tahunnya akan menjadi kegiatan wajib bagi umat islam maka beliau tidak memperingatinya.

Kebanyakan orang mengatakan Perayaan Maulid Nabi Muhammad tidak ada dalilnya dan merupakan bid'ah, orang-orang yang mengatakan tersebut saya rasa orang-orang yang tidak mau tahu akan hukum maulid Nabi Muhammad yang sebenarnya padahal pada kitab "Anni'matul Kibro" Karangan  Imam Syihabuddin Ahmad Ibnu Hajar Al-Haitami Asy-Syafi'i Sudah sangat jelas dituturkan Kalau Imam Syafi'i sudah pernah membahas tentang acara maulid ini dan beliau memperbolehkan.  Perhatikan kutipan makolah imam syafi'i berikut ini.

MAULID NABI 1



Artinya

Telah berkata Imam Asy-Syafi’i : “Sesiapa yang menghimpunkan saudaranya (sesama Islam) untuk mengadakan majlis maulid Nabi, menyediakan makanan dan tempat serta melakukan kebaikan, dan dia menjadi sebab dibaca maulid Nabi itu, maka dia akan dibangkitkan oleh Allah pada hari kiamat bersama ahli siddiqin (orang-orang yang benar), syuhada’ dan solihin serta berada di dalam syurga-syurga Na’im.”




Kesalahan Sejarah Perayaan Maulid Nabi Muhammad


Orang-orang yang mengatakan bid'ah membuat suatu sejarah maulid nabi yang saya rasa sangat dibuat-buat, menurut mereka"Maulid Nabi sebagai sebuah perayaan, tidak pernah terjadi di masa Rasulullah saw, juga tidak terjadi di masa al-Khulafaur Rasyidin ra, generasi tabi’in dan generasi tabi’it tabi’in rh. Menurut catatan sejarah, Maulid Nabi Muhammad saw sebagai sebuah perayaan baru muncul pada abad ke-4 H, tepatnya pada tahun 362 H oleh al-Muiz lidinillah al-Fathimi di Kairo, Mesir.


Al-Muiz lidinillah al-Fathimi adalah seorang Isma’il bathini yang mengikuti paham kebatinan dari aliran Ismailiyah, sehingga ia keluar dari dinul Islam. Kelompok Ismailiyah ini memisahkan Mesir dari Khilafah Abbasiyah yang saat itu berpusat di Baghdad dan mendirikan sebuah negara di Mesir yang bercorak kebatinan. Dari kelompok Ismailiyah inilah muncul perayaan hari raya al-Ghadir yag merupakan hari raya Syi’ah, hari raya Nairuz yang merupakan hari raya Persia, hari raya al-Khamis (Paskah) yang merupakan hari raya Nasrani, hari raya kelahiran Ali bin Abi Thalib, hari maulid al-Hasan, al-Husain, Maulid Fathimah, Maulid Khalifah al-Qaim bi Amrillah, dan hari raya tahun baru Hijriyah, juga hari raya Maulid Nabi saw yang mereka jadikan salah satu hari raya di antara hari raya-hari raya kaum muslimin."

(kutipan dari tulisan-tulisan orang-orang yang mengatakan maulid nabi adalah bid'ah) 




Mari kita teliti dimana letak kesalahan sejarah perayaan maulid nabi ini


Telah saya sebutkan didepan kalau Imam syafi'i dulu juga telah membahas perihal Maulid Nabi ini!, kenapa orang-orang itu mengatakan tidak ada catatan sejarah?.. Pertama dilihat dari kurun imam Syafi'i yang lahir ditahun 150 Hijriyah di gaza, Palestina, ini berarti pada abad ke 2 sudah ada perayaan Maulid Nabi tersebut, sedangkan artikel diatas mengambil dari sejarah pada abad ke-4 berarti sudah ada ratusan tahun terlewati. Maqolah Imam Syafi'i yang di ambil dari sebuah kitab karangan Ibnu Hajar sudah menjadikan suatu bukti kalau sebenarnya perayaan Maulid sudah ada pada zaman Imam Syafi'i karena pada waktu beliau masih hidup pernah membahasnya. Ini sudah sangat menunjukkan kalau sejarah tentang Maulid Nabi ini sebenarnya telah dibuat-buat oleh mereka atau memang mereka tidak tahu kalau memang maulid Nabi sebenarnya telah ada dari dahulu.




Pengambilan sebuah hukum dalam Islam


Hukum bermain sepak bola bisa menjadi haram bila lahirnya olahraga ini memang ada karena sebuah peristiwa besar orang-orang kafir yang memenggal kepala sayyidina Husain dan dijadikan mainan oleh mereka, akan tetapi karena memang adanya bola ini sebelum adanya peristiwa tersebut maka hukum sepakbolapun diperbolehkan, karena memang ada sebelum peristiwa tersebut.


Begitu juga Maulid Nabi adanya perayaan tersebut ternyata sudah ada pada masa imam Syafi'i (abad ke-2) walau hanya sedikit orang yang merayakannya tetapi itu berarti lahirnya perayaan ini jauh sebelum abad ke-4 seperti halnya sejarah-sejarah maulid yang dituturkan oleh orang-orang yang mengatakan maulid Nabi adalah Bid'ah.
Ini berarti kita bisa menarik sebuah kesimpulan kalau maulid nabi Muhammad adalah SUNNAH, kok sunnah???? ok silakan baca TERUSSSSS,....

Sepeti kata Imam Abu Syaamah yang telah kami tuturkan, dalam kitab الفتاوى الحديثيّة karya Ibnu Hajar al-Makky al-Haitamy, beliau ditanya tentang hukum merayakan Maulid dan Dzikir yang dilakukan banyak orang pada zaman sekarang, apakah itu sunnah atau sebuah keutama-an?, kalau dijawab Fadlilah, apakah ada penguat Atsar Ulama Salaf?, atau paling tidak Khobar? Dan apakah berkumpul dalam sebuah bid’ah yang mubah diperbolehkan atau tidak?

Beliau menjawab: bahwa perayaan Maulid dan Dzikir yang dilakukan kebanyakan orang mengandung unsur kebaikan, seperti shodaqoh, membaca dzikir, sholawat sembari memuji Rasulullah, maka hukumnya sunnah, karena termasuk dalam hadits-hadits yang membicarakan dzikir-dzikir secara khusus dan umum, seperti sabda Nabi saw:

لاَ يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُوْنَ اللهَ تَعَالَى إِلاَّ حَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ، وَذَكَرَهُمُ الله تَعَالَى فِيْمَنْ عِنْدَهُ. [رواه مسلم].

Artinya: Tidaklah duduk suatu kaum untuk berdzikir kepada Allah, kecuali akan dikerumuni Malaikat dan rohmat Allah, juga akan diturunkan sakinah kepada mereka, dan Allah juga akan mneyebut-nyebut mereka pda hamba-hambaNya yang terdekat.

Diriwayatkan juga bahwa beliau berkata pada kaum yang sedang duduk berdzikir dan mamuji-muji Allah yang telah memberi petunjuk pada mereka untuk memeluk agama Islam.

أَتَانِيْ جِبْرِيْلُ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ فَأَخْبَرَنِيْ: أَنَّ اللهَ تَعَالَى يُبَاهِيْ بِكُمُ الْمَلاَئِكَة.

Artinya: Telah datang padaku Malaikat Jibril dan memberi khabar bahwa Allah telah memamerkan kalian kepada Malaikat.

Dua hadits tadi adalah dalil paling transparan atas keutamaan duduk berkumpul dalam kebaikan dan mereka yang duduk di situ juga sama hukumnya, di pamerkan Allah pada malaikatNya, akan dituruni sakinah dan rohmat Allah juga Allah akan memuji mereka di kalangan malaikat.

Sekarang, manakah keutamaan yang lebih besar dari ini?

Sedangkan pertanyaannya adalah: apakah berkumpul untuk suatu bid’ah yang mubah di perbolehkan atau tidak?

Beliau menjawab: Ya, diperbolehkan. Izzuddin bin Abdussalam berkata: Bid’ah adalah: melakukan apa yang tidak ditemui pada kurun Nabi, dan bid’ah terbagi menjadi lima hukum, yaitu; wajib, sunnah, makruh, mubah dan haram. Metode untuk mengetahui masuk kategori yang mana (suatu bid’ah) adalah: melihat pada kaidah-kaidah syara’, mana saja hukum yang masuk dalam bid’ah itu, itulah hukumnya.

Termasuk dalam bid’ah Wajib adalah: mengajar ilmu nahwu untuk memahami al-Qur’an dan Hadits. Haram seperti: aliran pemikiran qodariyah. Kategori Sunnah adalah: membangun madrasah dan ber-kumpul untuk sholat tarawih, kategori Mubah seperti bersalaman setelah shalat, dan kategori Makruh adalah menghiasi masjid-masjid dan mushaf (tanpa emas), kalau dengan emas dihukumi haram.

Sedangkan hadits; كل بدعة ضلالة، وكل ضلالة في النارdialamatkan kepada bid’ah yang masuk kategori Haram.

Maka konklusi dan pendapat Abu Syaamah dan Ibnu Hajar dalam kitab فتاوى حديثية adalah: apa yang dilakukan setiap tahun pada hari yang bertepatan dengan lahirnya Nabi saw. berupa shodaqoh, berbuat kebajikan dan berkumpul mendengarkan kisah kelahiran beliau serta dzikir-dzikir adalah bid’ah yang paling bagus. Alasannya;

Pertama          : Ada unsur Mahabbah dan Ta’dhim dalam hati mereka yang terlibat dalam ritual ini pada Rasulullah, dan rasa syukur terhadap nikmat Allah yang telah mengutus beliau.

Kedua             : Ritual ini Sunnah, karena ada shodaqoh, dzikir, membaca sholawat yang memuji-muji beliau, yang semua itu bisa masuk dalam kategori hadits-hadits yang menerangkan majlis-majlis dzikir secara umum atau khusus, seperti hadits:

لاَ يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُوْنَ اللهَ تَعَالَى، إِلاَّ حَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ، وَذَكَرَهُمُ الله تَعَالَى فِيْمَنْ عِنْدَهُ. [رواه مسلم].

Artinya: Tidaklah duduk suatu kaum untuk berdzikir kepada Allah, kecuali akan dikerumuni Malaikat dan rohmat Allah, juga akan diturunkan sakinah kepada mereka, dan Allah juga akan mneyebut-nyebut mereka pda hamba-hambaNya yang terdekat.

Juga diriwayatkan bahwa beliau berkata kepada kaum yang sedang duduk berdzikir dan memuji-muji Allah yang telah memberi petunjuk kepada mereka untuk memeluk agama Islam.

أَتَانِيْ جِبْرِيْلُ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ فَأَخْبَرَنِيْ: أَنَّ اللهَ تَعَالَى يُبَاهِيْ بِكُمُ الْمَلاَئِكَة.

Artinya: Telah datang padaku Malaikat Jibril dan memberi khabar bahwa Allah telah memamerkan kalian kepada Malaikat.

Maka, tidak diragukan bagi mereka yang berakal, bahwa dua hadits tersebut sangatlah transparan dalam menyikapi keutamaan berkumpul dalam suatu kebajikan.

Sekarang, manakah keutamaan yang lebih besar dari majlis-majlis seperti ini?

Menurut kami (penulis, pent.), walaupun ritual seperti ini dianggap bid’ah dari sisi tidak dijumpai pada kurun Nabi, praktek mengagungkan Nabi banyak dijumpai pada masa itu, seperti yang dilakukan Khadijah r.a. yang dengan senang hati mengorbankan apa saja demi Rasulullah sampai beliau merasa banyak berhutang jasa pada Khadijah r.a.

Juga Abu Bakar yang menyerahkan semua hartanya pada Rasulullah tanpa tersisa sekali.

Dalam al-Qur’an surat al-Hujurat: 3 juga mengisyaratkan etika ta’dzim kepada Rasulullah.
Artinya: Sesungguhnya orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah mereka Itulah orang-orang yang Telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. bagi mereka ampunan dan pahala yang besar. (QS. Al-Hujurat: 3).

Dan lagi apa yang diisyaratkan dalam QS. Huud: 120:

Artinya: Dan semua kisah dari rasul-rasul kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya kami teguhkan hatimu; dan dalam surat Ini Telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman. (QS. Huud: 120).

Bahwa hikmah mengapa Allah mengisahkan para rasul-rasul terdahulu kepada Nabi adalah untuk mengokohkan hati beliau, apalagi kita yang mutlak sangat membutuhkan upaya mengokohkan hati dengan cara mendengarkan kisah-kisah Rasulullah.

Karena itulah imam al-Yafi’I dalam kitabnya روض الرياحين berani menghukumi sunnah membaca manaqib para ulama dan auliya’ dari ayat tadi (QS. Huud: 120).

Jadi jelas bahwa sebutan bid’ah atas ritual-ritual seperti ini hanya dari sisi model berkumpulnya, bukan dari esensi orisinilnya, karena esensi ritual ini banyak terjada pada kurun Rasulullah, bahkan dari firman Allah (QS. Al-Ahzab: 56).

Artinya: Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.

dapat diambil dalil atas wajibnya suatu tindakan, apapun model prakteknya yang menginspirasikan ta’dzim kepada Rasulullah, ketika beliau masih hidup atau sudah wafat, ini bisa dilakukan dengan metode Tanqihul Manath (membersihkan penyebab utama suatu hukum), yakni dalam ayat tersebut ada instruksi khusus (membaca sholawat) hanya karena mendengar nama Nabi disebut, kemudian instruksi khusus ini kita non aktifkan, dan keuniversalan instruksi (apa saja yang mengindikasikan ta’dzim kepada Rasulullah) yang kita aktifkan.

Dalam lembar sejarah, banya diantara para sahabat yang mem-praktekkan ta’dzim kepada Rasulullah dengan berbagai metode, ada yang meminum air kencing dan darah beliau, ada yang meletakkan rambut Rasulullah pada kopyahnya dan meyakini punya kekuatan hebat selalu menang dalam peperangan.

Coba fahmilah peristiwa-peristiwa sejarah itu, jangan kau hiraukan orang-orang yang tidak pernah tahu sejarah sahabat Nabi dan terlanjur kronis penyakit (benci Rasulullah) di hati-hati mereka.
Online-money exchanger rating
Info:

Sobat punya Web/Blog???!!  Buat nambah penghasilan, Pasang Iklan di blog/Webnya Untuk Daftar KLIK DISINI

Pasang benner di blog Sobat.atau DAFTAR DISINI

Thursday, May 8, 2014

GOLONGAN YANG SELAMAT

Pernyataan Abdullah bin Baaz mengenai golongan yang selamat
Saudaraku kaum muslimin !

Disamping kewajiban merealisasikan tauhid dan menghindari hal-hal yang bertentangan dengannya atau yang dapat menafikkanya, kita juga mesti berusaha agar tetap berada didalam lingkungan metode (manhaj) Ahlussunnah Wal Jama’ah “Alfirqah An Najiyah”(golongan yang selamat) dalam segala aspek, baik akidah maupum mu’amalah (tingkah laku). Yaitu metode generasi pertama (salaf) umat ini, dari kalangan sahabat dan orang-orang setelah mereka. Ahlus Sunnah memiliki metode (manhaj) dalam bab (iman) kepada Asma dan sifat (nama-nama dan sifat-sifat Allah) dan masalah-masalah (akidah) lainnya. Demikian juga halnya dengan masalah-masalah suluk (kelakuan), akhlak, mu’amalah dan ibadah serta segala aspek kehidupan, mereka memiliki manhaj yang jelas.

Oleh sebab itu, tatkala Nabi saw menyebutkan bahwa umat ini akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, Beliau bersada : “Semua (golongan) itu akan masuk neraka, kecuali satu golongan”. Ditanyakan kepadanya “siapakah mereka?“. Beliau saw menjawab “mereka ialah orang - orang yang manhaj (agamanya) seperti manhaj (agama)ku dan sahabat - sahabatku sekarang”

Beliau tidak mengatakan : “ Mereka ialah orang-orang yang mengatakan ini dan itu atau yang melakukan ini dan itu.. “ saja. Akan tetapi yang mengikuti manhaj Rasulullah saw dan para sahabat dalam segala hal.
Oleh karena itu, kewajiban anda adalah :


  1. Dalam bab sifat, anda mesti mengimani semua sifat-sifat Allah yang disebutkan-Nya atau yang disebutkan oleh Rasul-Nya saw tanpa merubah (tahriif), membayang-bayangkannya (takyiif), menyamakannya dengan (sifat) makhluk (tamtsiil) dan membatalkan atau menolaknya (ta’thiil). Artinya, tidak boleh menafilan kecuali sifat yang dinafikan-Nya dan tidak boleh pula menyamakannya (dengan makhluk), berdasarkan firman Allah :“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. QS. Asy Syuura: 11.

  2. Meyakini bahwa sesungguhnya Al Quran adalah Kalamullah (firman Allah) yang diturunkan-Nya, bukan makhluk. Daripada-Nya berawal dan kepada-Nya akan kembali.

  3. Beriman kepada hal-hal yang akan terjadi setelah kematian, keadaan alam kubur (barzakh) dan (hal-hal) ghaib lainnya.

  4. Meyakini bahwa iman itu adalah perkataan dan perbuatan, meningkat seiring dengan bertambahnya ketaatan, dan menurun sesuai dengan banyaknya maksiat (dosa).

  5. Tidak mencap seseorang kafir karena dosa yang dilakukan selain dosa syirik, selama dia tidak menganggap halalnya dosa itu. Dan meyakini bahwa sesungguhnya pelaku dosa besar apabila bertaubat, Allah akan terima taubatnya, dan apabila ia mati sebelum bertaubat, maka ia berada di bawah masyiah (kehendak) Allah. Jika Dia kehendaki diampuni-Nya. Dan kalau Dia kehendaki disiksa-Nya terlebih dahulu. Kemudian dimasukkan-Nya kedalam surga. Dan sesungguhnya tidak kekal di neraka, kecuali orang yang terjerumus ke dalam kekafiran dan kemusyrikan. Dan meninggalkan shalat termasuk kekafiran.

  6. Ahlus Sunnah mencintai, memuliakan san loyal kepada para sahabat, tanpa membeda-bedakan apakah mereka dari kalangan Ahlul Bait (keluarga Rasulullah) atau bukan. Namun tidak berkeyakinan bahwa ada diantara mereka yang ma’shum. Dan sahabat paling utama adalah Abu Bakar Ash Shiddiq, kemudian Umar bin Khattab, kemudian Usman bin Affan, kemudian Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhum. Ahlus Sunnah memilih tidak mengungkit-ungkit (mendiamkan) perselisihan yang pernah terjadi di kalangan sahabat, karena para sahabat itu adalah orang-orang yang berijtihad. Barangsiapa yang benar ijtihadnya mendapatkan dua pahala, dan siapa yang salah, mendapat satu pahala.

  7. Ahlus Sunnah meyakini adanya karamah (keramat) bagi para wali. Mereka ialah orang-orang shaleh dan bertaqwa. Allah Ta’ala berfirman “Ingatlah sesungguhnya wali-wali Allah itu. Tidak ada ke khawatiran terhadap mereka dan ridak (pula) mereka bersedih hati. (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa”. QS.Yunus: 62-63

  8. Ahlus Sunnah berprinsip, tidak boleh melakukan perlawanan kepada pemimpin (pemeritah), selama ia masih mendirikan shalat di kalangan mereka, dan mereka belum melihat padanya kekafiran yang nyata yang dapat dibuktikan dengan keterangan dari Allah.

  9. Mereka juga berimana kepada qadar (ketentuan) baik dan buruk dari Allah dalam semua tingkatannya. Di samping itu mereka percaya bahwa manusia musayyar (diatur dalam berbuat) sekaligus mukhayyar (diberi kebebasan memilih). Maka ahlus Sunnah tidak menafikan adanya qadar dan tidak pula menafikan kebebasan manusia (menentukan pilihannya), akan tetapi mereka mempercayai keberadaan keduannya.

  10. Ahlus Sunnah mencintai kebaikan bagi segenap manusia. Mereka adalah sebaik-baik manusia, bahkan merekalah orang yang paling adil kepada sesama.


Semoga shalawat dan salam selalu tercurah untuk Nabi kita Muhammad saw.

Jawaban Habib Munzir Al Musawa

Inilah jawaban Nabi saw terhadap kekuasaan Saudi Arabia yang menguasai Haramain, mereka sangat merisaukan dan meributkan kesyirikan, namun mereka saling bunuh demi berebut kekayaan, mereka rela mengundang dan membayar ribuan pasukan AS ke negeri mereka demi membantai saudara mereka muslimin mereka sendiri demi memperebutkan minyak, mereka rela tak membantu Palestina yang dibantai Israel, demi naiknya harga minyak, inilah yang dikabarkan oleh Rasul saw : “Sungguh Demi Allah aku tidak takut syirik menimpa kalian, namun yang kutakutkan adalah keluasan dunia yang kalian saling memperebutkannya” (Shahih Bukhari).

Jawaban Rasul saw ini membungkam semua lidah orang yang merisaukan syirik atas muslimin yang beribadah.

Info:
Sobat punya Web/Blog???!!  Buat nambah penghasilan, Pasang Iklan di blog/Webnya Untuk Daftar KLIK DISINI

Pasang benner di blog Sobat.atau DAFTAR DISINI

ATAU DAFTAR DISINI

CARANYA BACA : PASANG IKLAN/BANNER DI WEB/BLOG RAIH HASILNYA

yX Media - Monetize your website traffic with us

BERSUMPAH ATAS NAMA SELAIN ALLOH

Pernyataan Abdullah bin Baaz bahwa bersumpah atas Nama selain Allah adalah syirik

Bersumpah atas nama selain Allah, seperti bersumpah atas nama Nabi, atas nama amanah dan lain-lain. Nabi saw bersabda : “Barang siapa yang bersumpah atas nama selain Allah, maka sesungguhnya ia telah kafir atau syirik” (HR Tirmidzy) dan dihasankannya.

Jawaban Habib Munzir Al Musawa

Puluhan hadits riwayat shahih Bukhari yang menjelaskan para sahabat bersumpah dengan ayah dan ibunya, Demi ayah ibuku, atau Demi ayahku, Demi engkau wahai Rasulullah dan Demi Ibuku”. Ucapan ucapan seperti ini sering diucapkan oleh Abubakar shiddiq ra, Umar ra, dan banyak lagi para sahabat lainnya.

Info:
Sobat punya Web/Blog???!!  Buat nambah penghasilan, Pasang Iklan di blog/Webnya Untuk Daftar KLIK DISINI

Pasang benner di blog Sobat.atau DAFTAR DISINI

ATAU DAFTAR DISINI

CARANYA BACA : PASANG IKLAN/BANNER DI WEB/BLOG RAIH HASILNYA

Menghukum Dengan Hukum Selain Hukum Allah

Pernyataan Abdullah bin Baaz bahwa menghukum dengan hukum selain hukum Allah adalah tidak sesuai dengan syari’at Islam

Menghukum dengan selain hukum Allah dan menempatkan undang-undang (buatan manusia) pada posisi hukum syari’at Nya dengan keyakinan bahwa undang-undang tersebut lebih relevan (sesuai) untuk dijadikan hukum positif dari hukum syariat Allah atau berkeyakinan bahwa undang-undang tersebut sama saja atau bahkan lebih tinggi dudukannya dan lebih besar sesuai dengan perkembangan zaman sekarang. Sikap manusia yang menerima saja pandangan seperti ini, termasuk yang dapat menafikan tauhid.

Jawaban Habib Munzir Al Musawa

Kembali pada perbuatan Khulafa urrasyidin dan para sahabat, bagaimana Umar bin Khattab ra mengadakan shalat tarawih ramadhan YANG SUDAH DILARANG DAN DIBUBARKAN oleh Rasul saw, namun Khalifah Umar ra menganggapnya kebaikan dan perlu dimasanya. Dan hal itu teriwayatkan pada shahih Bukhari,

Jika hal itu sunnah, niscaya Khalifah Abubakar ra sudah melakukannya sebelum Umar ra, namun hal itu tak dilakukan, karena sunnah yang sudah mansukh. Namun dihidupkan kembali dimasa Umar ra dan disepakati oleh seluruh sahabat radhiyallahu’anhum dan dijalankan oleh seluruh madzhab hingga kini
Sebagaimana perbuatan Khalifah Utsman bin Affan ra yang menjadikan adzan menjadi dua adzan saat jum’at, yang tidak pernah dilakukan oleh Rasul saw, tidak pula oleh Khalifah Abubakar shiddiq ra, tidak pula Khalifah Umar ra, namun dimasanya ia merasa hal itu perlu dan baik, mengingat ummat Jum’at semakin banyak (Shahih Bukhari).

Demikian perbuatan Anas bin Malik ra yang berwasiat agar ditaruh beberapa helai rambut Rasul saw pada kain kafannya saat dimakamkan. (Shahih Bukhari) hal ini tak pernah dilakukan oleh Rasul saw, tidak pula oleh Khulafaurrasyidin.

Maka tentunya kembali pada ucapan Imam Ibn Rajab. Sebagaimana firman Nya swt : “Sungguh Allah telah memerintahkan kalian berbuat adil dan kebaikan, dan menyambung hubungan dengan kaum kerabat, dan melarang kepada keburukan dan kemungkaran dan kejahatan” berkata Alhasan bahwa ayat ini tidak menyisakan satu kebaikanpun kecuali sudah diperintahkan melakukannya, dan tiada suatu keburukan pun kecuali sudah dilarang melakukannya. (jamiul ulum walhikam Juz 2 hal 4).

Info:
Sobat punya Web/Blog???!!  Buat nambah penghasilan, Pasang Iklan di blog/Webnya Untuk Daftar KLIK DISINI

Pasang benner di blog Sobat.atau DAFTAR DISINI

ATAU DAFTAR DISINI

CARANYA BACA : PASANG IKLAN/BANNER DI WEB/BLOG RAIH HASILNYA

Memuliakan Orang Shalih

Pernyataan Abdullah bin Baaz bahwa memuliakan orang shalih adalah syirik

Memberikan loyalitas (wala’) kepada orang-orang kafir dan munafik dengan cara menghormati, memuliakan, mencintai dan bangga dengan mereka, bahkan memanggil mereka dengan panggilan “Sayyid” (tuan yang mulia)

Jawaban Habib Munzir Al Musawa

Tentunya memanggil sayyid antara muslimin adalah diperbolehkan oleh Rasul saw, sebagaimana Umar bin Khattab ra berkata pada Abubakar shiddiq ra : Anta sayyiduna wa khairuna wa ahabbuna ila rasulillah saw (engkau adalah junjungan kami, dan yang terbaik diantara kami, dan yang kami cintai terhadap Rasul saw) (Shahih Bukhari).

Berkata Umar ra : Abubakar Sayyiduna, dan telah membebaskan Bilal Sayyiduna. (shahih Bukhari).
Karena Rasul saw mengajari mereka berucap demikian, seraya bersabda : Janganlah diantara kalian (untuk para budak) berkata : aku akan membawakan makanan untuk Rabbku, (rabb juga bermakna pemilik), namun katakanlah (pada pemilik/tuan kalian) Sayyidy wa maulay (tuanku dan junjunganku) (Shahih Bukhari).

Info:
Sobat punya Web/Blog???!!  Buat nambah penghasilan, Pasang Iklan di blog/Webnya Untuk Daftar KLIK DISINI

Pasang benner di blog Sobat.atau DAFTAR DISINI

ATAU DAFTAR DISINI

CARANYA BACA : PASANG IKLAN/BANNER DI WEB/BLOG RAIH HASILNYA

Melukis / Mengagungkan / Menggantung Gambar Makhluk Bernyawa

Pernyataan Abdullah bin Baaz bahwa melukis / mengagungkan / menggantung gambar makhluk bernyawa adalah dosa besar

Melukis gambar–gambar makhluk bernyawa, mengagungkan atau menggantungkannya di dinding atau ditempat-tempat pertemuan dan sebagainya.

Jawaban Habib Munzir Al Musawa

Berkata Hujjatul Islam Al Imam Ibn Hajar menjelaskan larangan itu, bahwa sebagian ulama berpendapat bahwa hal itu adalah pada masa awal islam karena kuatnya ajaran jahiliyah dan kemusyrikan, namun jika sekarang maka tidak demikian.

Sabda Rasul saw “Maukah kalian kuberitahu orang orang mulia diantara kalian..?, mereka yg ketika dilihat wajahnya maka membuat mereka ingat pada Allah (Adabul Mufrad oleh Imam Bukhari), maka jelas sudah bahwa larangan adalah penyembahan, bukan memuliakan hamba yang dimuliakan Allah swt, sebagaimana Allah swt memerintahkan Iblis untuk memuliakan Adam as, hamba Nya yang shalih, namun Iblis menolak, inilah satu satunya kesalahan Iblis, ia hanya mau memuliakan Allah, tanpa mau memuliakan makhluk yang dimuliakan Allah

Info:
Sobat punya Web/Blog???!!  Buat nambah penghasilan, Pasang Iklan di blog/Webnya Untuk Daftar KLIK DISINI

Pasang benner di blog Sobat.atau DAFTAR DISINI

ATAU DAFTAR DISINI

CARANYA BACA : PASANG IKLAN/BANNER DI WEB/BLOG RAIH HASILNYA

Memberi Nama Harus Disandarkan Kepada Nama Allah

Pernyataan Abdullah bin Baaz bahwa memberi nama haruslah disandarkan kepada Nama Allah

Memberikan nama seseorang dengan “Abdun Nabi (Hamba Nabi)”, “Abdul Ka’bah (Hamba Ka’bah)”, atau “Abdul Husain (Hamba Al Husain)”. Nama-nama seperti ini tidak boleh digunakan dalam agama. Akan tetapi, nama-nama yang mengandung ‘ubudiyah (makna penghambaan) mesti disandarkan kepada nama Allah semata, seperti “Abdullah” dan “Abdul Rahman”.

Jawaban Habib Munzir Al Musawa

Juga sabda Nabi saw yg tak pernah disebut oleh orang orang wahabi, : bahwa Rasul saw bersabda : “Berilah nama dengan namaku (Muhammad). (Shahih Bukhari).

Info:
Sobat punya Web/Blog???!!  Buat nambah penghasilan, Pasang Iklan di blog/Webnya Untuk Daftar KLIK DISINI

Pasang benner di blog Sobat.atau DAFTAR DISINI

ATAU DAFTAR DISINI

CARANYA BACA : PASANG IKLAN/BANNER DI WEB/BLOG RAIH HASILNYA

DOWNLOAD MP3 KAJIAN HIKAM DARI MULAI HIKMAH KE-1 DAN SETERUSNYA

 Selamat Datang di Blog Saya, saya do'akan sobat semua sehat selalu, bagi sobat yang membutuhkan kajian hikam perhikmah dari mulai hikam...