Sunday, March 24, 2019

KAJIAN-7 (FATHUL MU'IN)

Edisi 7 Ngaji Kitab Fathul Mu'in Bab Shalat.

وبحث الاذرعي في قن صغير كافر نطق بالشهادتين أنه يؤمر ندبا بالصلاة والصوم، يحث عليهما من غير ضرب ليألف الخير بعد بلوغه، وإن أبى القياس ذلك.
انتهى.
ويجب أيضا على من مر نهيه عن المحرمات وتعليمه الواجبات، ونحوها من سائر الشرائع الظاهرة، ولو سنة كسواك، وأمره بذلك.
ولا ينتهي وجوب ما مر
على من مر إلا ببلوغه رشيدا، وأجرة تعليمه ذلك - كالقرآن والآداب - في ماله ثم على أبيه ثم على أمه.
..............................................
Syeikh Zainuddin al-Malibari berkata :

Imam al-Azra'i telah mengkaji masalah budak kecil yang kafir yang mengucap dua kalimat syahadat, yaitu disunnatkan menyuruh shalat dan puasa terhadapnya ( tanpa dipukul) supaya dia terbiasa dengan kebaikan sesudah baligh.

Wajib juga melarang si buah hati dari segala perbuatan haram, wajib mengajarinya dan menyuruhnya perkara-perkara wajib dan sunnat ( syariat - syariat yang dhahir ) seperti bersiwak.

Kewajiban demikian ( menyuruh shalat dll) berlaku sampai si buah hati sudah baligh dan pintar. Ongkos mengajarinya diambil dari hartanya, kemudian harta ayahnya kemudian harta ibunya.

✈ Silahkan share... 

KAJIAN-6 (FATHUL MU'IN)

Edisi 6 Ngaji Kitab Fathul Mu'in Bab Shalat.

(ويؤمر) ذو صبا ذكر أو انثى (مميز) بأن صار يأكل ويشرب ويستنجي وحده.
أي يجب على كل من أبويه وإن علا، ثم الوصي.
وعلى مالك الرقيق أن يأمر (بها) أي الصلاة، ولو قضاء، وبجميع شروطها (لسبع) أي بعد سبع من السنين، أي عند تمامها، وإن ميز قبلها.
وينبغي مع صيغة الامر التهديد.
(ويضرب) ضربا غير مبرح - وجوبا - ممن ذكر (عليها) أي على تركها - ولو قضاء - أو ترك شرط من شروطها (لعشر) أي بعد استكمالها، للحديث الصحيح: مروا الصبي بالصلاة إذا بلغ سبع سنين، وإذا بلغ عشر سنين فاضربوه عليها.
(كصوم أطاقه) فإنه يؤمر به لسبع ويضرب عليه لعشر كالصلاة.
وحكمة ذلك التمرين على العبادة ليتعودها فلا يتركها.
..............................................
Syeikh Zainuddin al-Malibari berkata :

Wajib terhadap kedua orang tua dan wasi menyuruh si buah hati yang sudah mumayyiz ( sudah bisa makan, minum sendiri) dan sudah berumur 7 tahun untuk shalat ( lengkap dengan syaratnya) baik shalat tunai atau qadha. Dan sepatutnya disuruh dengan bahasa tahdid.

Dan wajib dipukul ( bukan pukulan yang menyakitkan ) jika si buah jati saat dia berusia 10 tahun meninggalkan shalat walau shalat qadha atau salah satu syarat shalat .

Karena dalam sebuah hadits "perintahlah si buah hati untuk shalat jika sudah berumur 7 tahun dan pukul jika meninggalkan shalat saat berusia 10 tahun ".

Puasa jika dia mampu juga demikian, wajib disuruh saat berumur 7 tahun dan dipukul saat berusia 10 tahun jika dia tidak puasa. Hikmahnya agar dia terbiasa shalat / puasa sehingga tidak ditinggalkannya saat dia dewasa.

✈ Silahkan share... 

KAJIAN-5 (FATHUL MU'IN)

Edisi 5 Ngaji Kitab Fathul Mu'in Bab Shalat.

وإذا فات بلا عذر فيجب تقديمه عليها.
أما إذا خاف فوت الحاضرة بأن يقع بعضها - وإن قل - خارج الوقت فيلزمه البدء بها.
ويجب تقديم ما فات بغير عذر على ما فات بعذر.
وإن فقد الترتيب لانه سنة والبدار واجب. ويندب تأخير الرواتب عن الفوائت بعذر، ويجب تأخيرها عن الفوائت بغير عذر.
(تنبيه) من مات وعليه صلاة فرض لم تقض ولم تفد عنه، وفي قول أنها تفعل عنه - أوصى بها أم لا حكاه العبادي عن الشافعي لخبر فيه، وفعل به السبكي عن بعض أقاربه.
.......................................
Syeikh Zainuddin al-Malibari berkata :

Wajib mendahulukan shalat qadha ( luput tanpa ozor) daripada shalat tunai, namun jika dikhawatirkan luput shalat tunai ( jadi diluar waktu walau sebagian rakaat ) maka wajib mendahulukan shalat tunai daripada shalat qadha.

Wajib mendahulukan shalat qadha ( luput tanpa ozor) daripada shalat qadha ( luput sebab ozor) walaupun tidak tertib lagi karena tertib itu sunnat sedangkan bersegera itu wajib. Sunnat mendahulukan shalat qadha ( luput sebab ozor) daripada shalat rawatib, wajib mendahulukan shalat qadha ( luput tanpa ozor) daripada shalat rawatib.

Tambih : Seseorang yang telah meninggal sedangkan dia ada tinggal shalat fardhu maka shalatnya tidak boleh diqadha dan tidak boleh diberi fidiyah, namun menurut satu pendapat yang dikemukakan oleh Syekh al-Ubbadi dari Imam Syafi’i shalat orang tersebut boleh diqadha oleh orang lain ( keluarga /sahabat) baik ada diwasiat atau tidak, karena ada hadits dan ini pernah dilakukan oleh Syekh Subki terhadap sahabatnya.

✈ Silahkan share... 

Saturday, March 23, 2019

CARA MUDAH KREDIT BARANG IDAMAN ANDA


Dengan Majunya teknologi di Era Digital hampir semua yg kita inginkan bisa dilakukan cukup dengan satu genggaman Hp Android, dari mulai pendidikan sampai jual beli dan masih banyak lg.

Kali ini saya akan memperkenalkan satu Aplikasi yg baik untuk anda yg mana Aplikasi ini untuk melakukan jual beli baik kredit ataupun cash dan jika anda sudah daftar dan di verifikasi anda akan di beri limit untuk berbelanja secara kredi.

Bagi saya Aplikasi AKULAKU ini cukup baik di banding dengan app lainnya karena dengan modal KTP DAN CONNECT FACEBOOK anda bisa bergabung,dan proses verivikasi tidak serumit app lainnya.


Jika sobat ingin daftar dan mendapatkan limit saldo kepercayaan caranya cukup gampang:


  1. Sobat harus download Akulaku via playstor
  2. Daftarkan nomor sobat dan email sobat sampai dapat sms
  3. Sediakan KTP
  4. Punya akun media sosial yg aktif
  5. jangan lupa Jika sobat di minta kode Referal masukan kode : HDFTP


Jika sobat butuh bantuan untuk supaya cepat di verifikasi silahkan hubungi saya via WA :



Ini contoh akun saya yg sudah saya gunakan:



SELAMAT MENCOBA

Friday, March 23, 2018

HUKUM JUAL BELI JIN

PERTANYAAN :

Assalamu alaikum. Pertanyaan titipan. Sah kah jual beli jin ? [Mbah Godek].

JAWABAN :

Wa'alaikumussalam. Jual beli jin nggak sah karena tidak bisa dilihat oleh kedua belah pihak / penjual dan pembeli. Jual beli jin juga tidak sah sebab jin bukanlah barang yang dimiliki, dan juga bukan sesuatu yang jelas. Wallohu A'lam. (Mas Hamzah, Ahmad Badjeber).

- kitab fathul qorib (1/164) :

(و) الثالث (بيع عين غائبة لم تشاهد) للمتعاقدين؛ (فلا يجوز) بيعها. والمراد بالجواز في هذه الثلاثة الصحةُ.

- kitab kifayatul akhyar (1/234) :

(وَيصِح بيع كل طَاهِر منتفع بِهِ مَمْلُوك وَلَا يَصح بيع عين نَجِسَة وَمَا لَا مَنْفَعَة فِيهِ)اعْلَم أَن الْمَبِيع لَا بُد أَن يكون صَالحا لِأَن يعْقد عَلَيْهِ ولصلاحيته شُرُوط خَمْسَةأَحدهَا كَونه طَاهِراالثَّانِي أَن يكون مُنْتَفعا بِهِالثَّالِث أَن يكون الْمَبِيع مَمْلُوكا لمن يَقع العقد لَهُ وَهَذِه الثَّلَاثَة ذكرهَا الشَّيْخالشَّرْط الرَّابِع الْقُدْرَة على تَسْلِيم الْمَبِيعالْخَامِس كَون الْمَبِيع مَعْلُوما فَإِذا وجدت هَذِه الشُّرُوط صَحَّ البيع

شروط المعقود عليه خمسة كونه طاهرا اويمكن تطهيره بالغسل وكونه نافعا وكونه مقدورا على تسلمه وولاية للبائع عليه وعلم للعاقدين به عينا وقدرا وصفةالياقوت النفيس

HUKUM BACA TA'AWUDZ DAN BASMALAH KETIKA BACA SURAT AT TAUBAH

PERTANYAAN:
Assalamu'alaikum. Apakah  benar bila membaca surat "atTaubah" itu gk b0leh pake ta'awudz atw basmalah?sykr0n

Masaji Antoro >>Wa'alaikumsalam
Kalau baca ta'awwudz mengawali pembacaan suroh tersebut maka diperbolehkan, sedang kalau baca BASMALAH itu  terjadi perbedaan pendapat diantara Ulama tentang hukum membaca BASMALAH pada awal surat "BAROO-AH" (surat attaubah)

قوله: (ومن ثم حرمت الخ) عليه منع ظاهر وفي الجعبري ما يدل على خلافه فراجعه سم عبارة ع ش قوله م ر: سورة براءة أي فلو أتى بها في أولها كان مكروها خلافا لحج حيث قال بالحرمة اه عبارة شيخنا فتكره البسملة في أولها وتسن في أثنائها كما قاله الرملي، وقيل: تحرم في أولها وتكره في أثنائها كما قاله ابن حج

Menurut Imam ROMLI hukum membaca BASMALAH pada awal surat baraooah adalah MAKRUH sedang menurut Imam Ibnu Hajar membaca basmalah diawal surat hukumnya haram, sedang di tengah surat hukumnya makruh..
Hawasyi Assyarwaani wa al ‘ubaady II36

---------------------------------------------

Kenapa surat ATTAUBAH tidak diperkenankan membaca basmalah ?

Ada beberapa pendapat terkait tidak terdapatnya BASMALAH dipermulaan surat BARAA-AH/TAUBAH :

1. Basmalah mengandung makna kasih saying dan kedamaian sedang surat baraa-ah diturunkan sebagai surat untuk perintah m...engangkat pedang (perang) yang tidak ada ketentraman didalamnya, ini adalah pendapat alMarwy ra. Dan Sufyan Bin ‘uya’inah
2. Sudah menjadi kebiasaan dilingkungan orang-orang arab dimasa kaum jahiliyah bila telah terjadi kesepakan perjanjian diantara mereka kemudian kesepakatan tersebut mereka rusak maka surat perusakannya tidak diawali dengan tulisan basmalah, seperti halnya turunnya surat baraa-ah (at-taubah) sebagai perusak perjanjian genjatan senjata antara nabi Muhammad dan orang-orang musrik maka nabi pun mengutus sahabat Ali bin abi thalib untuk membacakan surat baraa-ah dengan tanpa basmalah sebagai bentuk menjalankan kebiasaan mereka dalam merusak perjanjian.
3. Terjadi perbedaan dikalangan para shahabat yang menyatakan antara surat baraa-ah dan surat al-anfaal (surat sebelum baraa-ah dalam penulisan sekarang), diantara mereka ada yang beranggapan keduanya satu surat ada lagi yang beranggapan keduanya dua surat karena para shahabat tidak memberikan celah antara surat baraa-ah dan surat al-anfaal berdasarkan pendapat yang menyatakan keduanya dua surat, dan tidak menuliskan basmalah berdasarkan pendapat keduanya satu surat, para shahabat rela menerima jalan tengah ini, pendapat mereka merasa terlindungi dan argumentasinya ditetapkan dalam mushaf.
4. Terjadi penaskhan (penghapusan) diawal surat baraa-ah sehingga basmalanya pun ikut terhapus bersamanya, ini pendapat Ibn Wahb, Ibn Qaasim, Ibn ‘Abd alhakiim dari sahabat Malik ra seperti yang telah dinuqil oleh imam Qurthuuby.
5. Dari Ibn ‘Ajlaan dan sa’id Bin Jubair surat baraah membandingi surat baqarah menurut alQurthuuby pendapat yang shahih “sesungguhnya basmalah tidak tertulis disurat ini karena malaikat jibril memang tidak menyertakannya saat penurunan surat baraah” Dikatakan oleh alQusyairy

Keterangan diambil dari :

واختلف العلماء في سبب سقوط البسملة من أول هذه السورة على
أقوال خمسة : [الأول] أنه قيل كان من شأن العرب في زمانها في الجاهلية إذا كان بينهم وبين قوم عهد فإذا أرادوا نقضه كتبوا إليهم كتابا ولم يكتبوا فيه بسملة فلما نزلت سورة براءة بنقض العهد الذي كان بين النبي صلى الله عليه وسلم والمشركين بعث بها النبي صلى الله عليه وسلم علي ابن أبي طالب رضي الله عنه فقرأها عليهم في الموسم ولم يبسمل في ذلك على ما جرت به عادتهم في نقض العهد من ترك البسملة.
وقول ثان : روى النسائي قال حدثنا أحمد قال حدثنا محمد بن المثنى عن يحيى بن سعيد قال حدثنا عوف قال حدثنا يزيد الرقاشي قال قال لنا ابن عباس : قلت لعثمان ما حملكم إلى أن عمدتم إلى [الأنفال] وهي من المثاني وإلى [براءة] وهي من المئين فقرنتم بينهما ولم تكتبوا سطر بسم الله الرحمن الرحيم ووضعتموها في السبع الطول فما حملكم على ذلك ؟ قال عثمان : إن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان إذا نزل عليه الشيء يدعو بعض من يكتب عنده فيقول : "ضعوا هذا في السورة التي فيها كذا وكذا" . وتنزل عليه الآيات فيقول : " ضعوا هذه الآيات في السورة التي يذكر فيها كذا وكذا" . وكانت [الأنفال] من أوائل ما أنزلو [براءة] من آخر القرآن وكانت قصتها شبيهة بقصتها وقبض رسول الله صلى الله عليه وسلم ولم يبين لنا أنه منها فظننت أنها منها فمن ثم قرنت بينهما ولم أكتب بينهما سطر بسم الله الرحمن الرحيم. وخرجه أبو عيسى الترمذي وقال : هدا حديث حسن.
وقول ثالث : روي عن عثمان أيضا. وقال مالك فيما رواه ابن وهب وابن القاسم وابن عبدالحكم : إنه لما سقط أولها سقط بسم الله الرحمن الرحيم معه. وروي ذلك عن ابن عجلان أنه بلغه أن سورة [براءة] كانت تعدل البقرة أو قربها فذهب منها فلذلك لم يكتب بينهما بسم الله الرحمن الرحيم. وقال سعيد بن جبير : كانت مثل سورة البقرة.
وقول رابع : قاله خارجة وأبو عصمة وغيرهما. قالوا : لما كتبوا المصحف في خلافة عثمان اختلف أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم ، فقال بعضهم : براءة والأنفال سورة واحدة. وقال بعضهم : هما سورتان. فتركت بينهما فرجة لقول من قال أنهما سورتان وتركت بسم الله الرحمن الرحيم لقول من قال هما سورة واحدة فرضي الفريقان معا وثبتت حجتاهما في المصحف.
وقول خامس : قال عبدالله بن عباس : سألت علي بن أبي طالب لم لم يكتب في براءة بسم الله الرحمن الرحيم ؟ قال : لأن بسم الله الرحمن الرحيم أمان وبراءة نزلت بالسيف ليس فيها أمان. وروي معناه عن المبرد قال : ولذلك لم يجمع بينهما فإن بسم الله الرحمن الرحيم رحمة وبراءة نزلت سخطة. ومثله عن سفيان. قال سفيان بن عيينة : إنما لم تكتب في صدر هذه السورة بسم الله الرحمن الرحيم لأن التسمية رحمة والرحمة أمان وهذه السورة نزلت في المنافقين وبالسيف ولا أمان للمنافقين. والصحيح أن التسمية لم تكتب لأن جبريل عليه السلام ما نزل بها في هذه السورة قاله القشيري.

Tafsiir al Qurthuuby VIII/61-63

واختلف العلماء في سبب سقوط البسملة منها على أقوال:
منها: أن البسملة رحمة وأمان و"براءة" نزلت بالسيف؛ فليس فيها أمان، وهذا القول مروي عن علي رضي الله عنه، وسفيان بن عيينة.
ومنها: أن ذلك على عادة العرب إذا كتبوا كتاباً فيه نقض عهد أسقطوا منه البسملة، فلما أرسل النَّبي صلى الله عليه وسلم علياً رضي الله عنه ليقرأها عليهم في الموسم؛ قرأها، ولم يبسمل على عادة العرب في شأن نقض العهد، نقل هذا القول بعض أهل العلم، ولا يخفى ضعفه.
ومنها: أن الصحابة لما اختلفوا: هل "براءة" و"الأنفال" سورة واحدة أو سورتان؛ تركوا بينهما فرجة لقول من قال: إنهما سورتان، وتركوا البسملة لقول من قال: هما سورة واحدة، فرضي الفريقان وثبتت حجتاهما في المصحف.
ومنها: أن سورة "براءة" نسخ أولها فسقطت معه البسملة، وهذا القول رواه ابن وهب، وابن القاسم، وابن عبد الحكم، عن مالك، كما نقله القرطبي.
وعن ابن عجلان، وسعيد بن جبير، أنها كانت تعدل سورة "البقرة"، وقال القرطبي: والصحيح أن البسملة لم تكتب في هذه السورة؛ لأن جبريل لم ينزل بها فيها. قاله القشيري. اهـ.

Adwaa’ alBayaan Fii Iidhooh alQuraan X/2

Wallaahu A'lamu Bis Showaab.....

WASPADA GOLONGAN PENGINGKAR HADITS

WASPADA GOLONGAN PENGINGKAR HADITS

Oleh Mbah Jenggot

Salah satu metode meruntuhkan ajaran Islam yang paling kuno dan sudah jadi langganan orang kafir adalah menghembuskan keragu-raguan kepada keshahihan hadits-hadits Nabawi. Tasykik (menyusupkan keragu-raguan) model ini sebenarnya metode klasik yang sering dilancarkan para orientalis zaman dulu. Triknya pun sebenarnya terbilang ketinggalan zaman alias sudah out of date. Meski demikian, bila ditembakkan kepada kalangan awam yang gagap dengan esensi ajaran Islam, ternyata jurus ini terkadang masih ampuh juga.

Yang jelas bukan karena keampuhan jurusnya, tetapi memang dasarnya pertahanan fikrah umat Islam ini terlalu lemah dan rentan terhadap berbagai serangan, bahkan yang paling lemah sekalipun. Sehingga hanya sekali gebrak saja sudah jatuh bertekuk lutut.

Padahal bila kita sedikit saja punya latar belakang pemahaman ilmu hadits, pastilah kita dengan mudah akan merontokkan semua tuduhan miring tentang keabsahan hadits nabawi. Kami akan sampaikan tiga contoh tuduhan orientalis dan jawaban singkatnya.

1. Tuduhan Bahwa Hadits Tidak Ditulis di Masa Nabi.

Para orientalis seringkali mengatakan bahwa hadits baru ditulis seratus tahun lebih setelah Rasulullah SAW wafat. Sehingga sangat besar kemungkinan terjadinya pemalsuan. Sedangkan di masa Rasulullah SAW hadits itu tidak pernah ditulis. Tuduhan ini pun seringkali mengecoh orang awam untuk membenarkan tasykik.

Padahal para orientalis itu sungguh-sungguh keliru dalam hal ini. Memang benar ada ungkapan Imam Malik yang bisa disalah-pahami, tapi ungkapan Imam Malik yang menyebutkan bahwa orang yang menulis hadits adalah Ibnu Syihab Az-Zuhri (wafat 123 H) sebenarnya terkait dengan penulisan yang bersifat pengumpulan. Maksudnya adalah bahwa Az-Zuhri merupakan orang yang pertama kali mengumpulkan naskah-naskah hadits menjadi satu. Sedangkan penulisan hadits sebenarnya sudah dilakukan di masa Rasulullah SAW masih hidup, meski tidak dilakukan oleh semua shahabat.

Penelitian menunjukkan bahwa di masa Rasulullah SAW masih hidup, tidak kurang ada 52 orang shahabat yang kerjanya menulis dan mencatat hadits-hadits beliau. Sedangkan di kalangan tabi`in ada 247 yang melakukan hal serupa.

2. Teori Projecting Back

Di antara argumen yang dilancarkan oleh para orientalis adalah teori projecting back. Teori ini berkesimpulan bahwa hampir semua hadits itu hanyalah karangan para ahli fiqih yang hidup di abad ke 2 dan ke 3 hijriyah tapi dibuat seolah-olah berasal dari Rasulullah SAW. Salah satu tokohnya adalah Joseph Scacht dalam bukunya "The Origins Of Mohammadan Juresprudence" dan "An Introduction to Islamic Law." Salah satu ungkapannya adalah 'Kita tidak akan menemukan satu buah hadits hukum yang berasal dari Nabi yang dapat dipertimbangkan shahih'.

Tentu saja orang awam dan terbelakang dengan ajaran Islam akan terkagum-kagum dengan lontaran semacam ini. Dan dengan mudah akan langsung membenarkannya. Padahal, teori itu mudah sekali dipatahkan. Adalah seorang Dr. Mustafa Al-Azhami, seorang peraih gelar doktor pada Universitas Cambridge di Inggris, yang melakukannya dengan mudah. Beliau mengambil sebuah naskah hadits yang dituduhkannya sebagai karangan ulama saja untuk dijadikan bahan penelitian yang menumbangkan tuduhan keji musuh Islam.

Naskah itu milik As-Suhail bin Abu Shalih (w. 138 H). Ayahnya yaitu Abu Shalih adalah seorang murid Abu Hurairah. Sehingga haditsnya punya runtutan rawi yang jelas dari Suhail dari Ayahnya dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW. Naskah ini mengandung 49 hadits yang setelah diteliti sampai ke generasi ke tiga yaitu generasi Suhail, ternyata jumlah rawinya mencapai 20 sampai 30 orang yang masing-masing berdomisili di beragam penjuru dunia yang berjauhan di masa itu. Sangat mustahil untuk ukuran masa itu mereka berkumpul untuk membuat sebuah hadits palsu sehingga redaksinya bisa mirip persis. Salah satu hadits itu adalah :

'Bila salah seorang dari kamu bangun dari tidurnya, maka hendaklah dia mencuci tangannya, karena dia tidak tahu semalam tangannya berada di mana'.

Dalam naskah Suhail hadits ini ada pada urutan ke 7 dan pada jenjang pertama (tabaqah ula) diriwayatkan oleh 5 orang shahabat yaitu Abu Hurairah, Ibnu Umar, Jabir, Aisyah dan Ali ra. Abu Hurairah sendiri lalu meriwayatkan hadits ini kepada 13 orang tabi`in. Ke-13 orang ini lalu menyebar ke berbagai penjuru dunia. 8 orang tinggal di Madinah, seorang tinggal di Kufah, 2 orang tinggal di Bashrah, seorang tinggal di Yaman dan seorang lagi tinggal di Syam.

Ke-13 tabi`in ini lalu meriwayatkan lagi hadits itu kepada generasi berikutnya Atba`ut-tabi`in dan jumlah mereka menjadi 16 orang. 6 orang tinggal di Madinah, 4 orang di Bashrah, 2 orang di Kufah, 1 orang di Mekkah, 1 orang di Yaman, 1 orang di Khurasan dan 1 orang di Himsh Syam.

Maka amat mustahil ada 16 orang yang domisilinya terpencar-pencar di beragam ujung dunia itu pernah berkumpul bersama pada suatu saat untuk membuat hadits palsu bersama yang redaksinya sama. Atau mustahil pula mereka masing-masing di rumahnya membuat hadits lalu kebetulan semua bisa sama sampai pada tingkat redaksinya. Kalau kejadiannya di masa sekarang ini, mungkin saja bisa dilakukan lewat diskusi di milis atau lewat SMS. Tapi di masa itu untuk menempuh satu kota dengan kota lain dibutuhkan waktu berbulan-bulan dengan naik unta.

Padahal ke 16 orang itu baru dari jalur Abu Hurairah saja. Apabila jumlah rawi itu ditambah dengan yang dari ke 4 shahabat lainnya, maka jumlahnya akan menjadi lebih banyak.

3. Tuduhan Bahwa Hadits Terlalu Banyak

Orang yang awam dengan ilmu hadits pasti dengan mudah akan menganggukkan kepala, manakala mendengar argumen musuh Islam yang mengatakan bahwa secara logika tidak bisa diterima adanya jumlah hadits nabi yang mencapai ratusan ribu. Mereka sering mempertanyakan, "Apakah pekerjaan Nabi itu hanya bicara saja? Pastilah ada banyak sekali hadits palsu."

Padahal adanya hadits yang mencapai ratusan ribu itu sebenarnya hanya karena cara penghitungannya saja. Rupanya para orientalis itu dan para murid-muridnya memang betul-betul bodoh dengan ilmu hadits. Ternyata mereka tidak tahu bagaimana cara menghitung hadits nabi. Mereka menduga bahwa hadits nabi itu hanya matannya saja.

Padahal dalam ilmu hadits, hadits adalah gabungan antara matan dan sanadnya. Karenanya, bila terdapat matan hadits yang sama namun sanadnya berbeda misalnya 10 jalur sanad, tetap akan dihitung sebagai 10 hadits dan bukan satu hadits saja. Dari sisi ini saja sudah terbukti bahwa mereka yang melontarkan tuduhan sebenarnya tidak tahu duduk persoalannya.

Sayang sekali umat Islam tercinta ini ternyata terlalu percaya dengan nama-nama besar orientalis, padahal sikap dan cara mereka mempertanyakan sesuatu sudah mencerminkan bahwa mereka justru sama sekali tidak kompeten untuk bicara masalah hadits. Silahkan belajar saja terlebih dahulu ilmu hadits kepada para ulama, baru kalau sudah punya ilmu sedikit-sedikit dan ada yang masih kurang jelas, silahkan ditanyakan. Sedangkan lancang melemparkan kritik tanpa pernah paham ilmunya, justru mempermalukan diri sendiri. Kita sungguh ikut merasa kasihan dan berduka cita atas kejadian seperti ini.

4. Pesan Buat Para Pengingkar Hadits ( Inkarus Sunnah )

Maka para pengingkar hadits dari kalangan muslimin sebenarnya perlu membuka mata untuk tahu dari manakah sebenarnya pemikiran keliru itu mereka lahap. Tidak lain dari para orientalis yang sejak awal sudah punya niat tidak baik terhadap Islam. Seharusnya mereka perlu sedikit lebih mawas diri untuk belajar dan memperdalam ilmu agama secara benar, agar tidak terlalu mudah terlena dengan bujuk rayu musuh Islam. Sayangnya kebanyakan mereka justru terlalu awam dengan ajaran Islam, ditambah terlalu mudah terpesona dengan apa yang lahir dari mulut musuh-musuh Islam. Seolah-olah barat itu sumber kebenaran satu-satunya. Padahal justru barat-lah yang banyak berhutang ilmu pengetahuan kepada dunia Islam.

Terus terang, metodologi penulisan hadits yang ada di dunia Islam ini hanya ada satu-satunya di dunia, bahkan sepanjang sejarah peradaban manusia. Seharusnya, barat itu datang baik-baik untuk melihat dan mengagumi buah karya anak manusia. Ilmu penulisan hadits dengan segala keistimewaannya yang kita warisi ini tidak akan pernah lagi tercipta di muka bumi. Seharusnya, Imam Al-Bukhari, Imam Muslim dan para muhaddits lainnya mendapat pulitzer atau nobel untuk karya mereka. Bahkan mungkin semua jenis penghargaan atas karya cipta yang pernah ada di atas lembaran kerak bumi ini tidak pernah bisa sebanding dengan apa yang telah mereka lakukan.

Cabang ilmu ini telah berdiri tegak dengan gagahnya lebih dari seribu tahun lamanya. Setiap kali ada orang datang mencelanya atau menafikannya, setiap kali punya ilmu ini membuktikan keagungannya.

DOWNLOAD MP3 KAJIAN HIKAM DARI MULAI HIKMAH KE-1 DAN SETERUSNYA

 Selamat Datang di Blog Saya, saya do'akan sobat semua sehat selalu, bagi sobat yang membutuhkan kajian hikam perhikmah dari mulai hikam...